Wednesday, July 08, 2009

satu, dua, tiga

Semua begitu berbeda. Seolah-olah berjalan menjauhiku. Aku pun memilih untuk diam. Sekadar ingin melihat tanggapan dari yang lain. Ingin dianggap, sesungguhnya. Tetapi, mereka malah berjalan berhamburan. Atau, aku saja yang malah bersembunyi?

Satu, dua, tiga. Mungkin, memang tempatku di taman belakang dengan secangkir kopi. Sayang sekali, alam bilang, dua perlu disesuaikan, sementara lebih daru dua terlalu banyak. Aku bilang, satu pun harus berpuas diri.

(rindu kalian yang tak pernah mencari)

Tuesday, June 30, 2009

sigap

Asal kamu tahu saja, rindu ini mengganggu benar. Segala cara untuk mencari perhatianmu justru malah melelahkanmu. Aku pun lelah mengaduk-aduk cara lainnya. Rindu ini justru menjauhkan kita, seperti yang sudah-sudah. Coba kita tak pernah merindu. Kita pun mungkin sudah terbuai pada tingkat paling mesra. Dan, setelahnya, dengan sigap, bosan melanda.

sebagian saja, tak usah seutuh

Mungkin ia memang lelaki yang hampir selalu mendampingi tiap kisahku. Tapi, jangan pernah lupa, kami tidak saling memiliki. Memang benar, ada beberapa bagian dariku yang selalu tertinggal bersamanya. Tapi, tetap saja, dia bukan milikku. Bahkan, kami tak saling berkeinginan memiliki.

Aku bukanlah hidupnya yang harus selalu menjadi nomor satu. Bukan pula satu-satunya seperti tuntutan mereka pada umumnya. Biarkan saja, pikirku. Aku akan menghargai dia seutuhnya dengan menjadi bagian dalam hidupnya. Ya, sebagian saja, tak usah seutuh.

Kami tak perlu menjadi kita. Aku dan dia saja yang mewakili. Dua individu yang mempunyai kebebasan tanpa harus menjadi kesatuan. Mereka bilang, aku dan dia harus satu kata, satu pendapat, satu tujuann. Namun, masing-masing percaya setiap individu bebas merasa, berpikir, dan berada di antaranya. Aku dan dia tetap dua tanpa keharusan. Menjelma menjadi ras ayang ikhlas, jauh dari untung-rugi, bahkan sistem barter sekali pun.

Jadi, jika kamu merindunya, panggil saja. Dekap sekalian. Kutahu betul dekapannya sungguh menenangkan. Rasakan betul nyaman yang ditawarkan. Silakan saja. Dan, biarkan awal serta akhir menyamar menjadi proses. Kemudian, kita semua masing-masing sanggup merasa, berpikir, dan berada di antaranya dengan sadar. Ada karena sadar. Biarkan sakit yang mengganggu bersembunyi ketika nyaman terlena. Terlena dengan sadar.

pesan

Berkali-kali pesan yang sama diketiknya. Selanjutnya, ia diam saja menunggu balasan. Bukan pekat malam yang didambanya seharian ini. Sibuk ia mencari gemerlap lampu kota di sisa malam itu untuk menyibukkan pikirannya. Namun, pesan itu masih saja tak berbalas. Dan, ia tidak pernah lelah menantinya.

Esoknya, terik menjadi saksi pertumpahan air mata. Seorang lainnya diam saja duduk di hadapannya. Tak bergerak mendekat. Tak mengusap lembut mencoba menenangkan. Jingganya matahari menjadi saksi selanjutnya. Masih saja, pesan semalam tak dibahas sama sekali.

Tahunan tak menjadi jaminan. Air mata itu seperti sia-sia, tak berarti apa-apa. Padahal, ini sudah tahun kesekian. Tak terseka pula. Seorang lainnya sudah bosan berada di situasi yang tidak dimengerti sekaligus dengan mudah dipahami karena ini adalah kali kesekian.

Subuh itu ia terbangun. Segala pesan ia bongkar untuk menghapus seorang tadi. Ditulis lagi pesan yang sama dan tak pernah terkirim.

juni 2009

mengulang pertanyaan

Kamu tak peduli, kan? Itu saja yang diulang-ulangnya. Selalu. Aku tak ambil pusing dari tiap pertanyaan itu. Kutinggalkan saja dengan rapi. Sebelum pergi lebih jauh, ia mengulang lagi. Kamu tak peduli, kan?

Dia adalah sosok paling tegas yang pernah kukenal dengan baik. Tetapi, untuk urusan ini, ia selalu rela kalah untuk tidak mendapat ketegasan. Tahukah ia? Aku merasa menang dari ketegasan yang menjadi ciri khasnya. Namun, ia sangat tegas dengan pasti bahwa perasaan bukan masalah menang kalah. Istilah kalah untuk menang pun tidak pernah ia percayai.

Ketika kami duduk berdua sekian lama, ia merapikan barang-barang bawaannya. Rokok, korek, telepon yang tidak pernah berbunyi, dan satu rasa tak bernama. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana, kan? Itu saja pertanyaan yang selalu kuulang dan tak pernah terjawab. Lalu, ia mengulang pertanyaan andalannya.

bicaralah

"Kenapa berulang kali kau tanya tentang hati ini?" kubakar rokok sebelum menjawab pertanyaan yang selalu diajukannya. "Ini serius karena aku harus tahu," itu saja jawabannya. Aku sungguh tak mengerti. Ia selalu menganggap masalah hati lebih serius daripada segala hal yang biasa kami bicarakan. Kelaparan di Afrika, kemiskinan negara sendiri, sengketa pulau, kapitalisme, dan hak perempuan menjadi kalah serius seketika.

"Mau keluar dari pembicaraan dengan cara apa lagi kali ini?" tanyanya mulai sinis. Mungkin kali ini harus kujelaskan saja kepadanya. Entah mengapa, aku merasa tetap ingin mempertahankan argumenku. "Ini bukan masalah rahasia. Ini juga bukan karena aku tidak kenal hatiku sendiri," jawabku setelah menghembuskan asap rokok. "Bicaralah," katanya tak sabar.

"Rasa ini urusanku dan urusan yang bersangkutan. Makanya, kupendam erat-erat," jawabku ketus.

"Kamu salah satu yang bersangkutan," lanjutku tak terdengar.

juni 2009

alienasi

Hari itu adalah hari yang telah ditunggu-tunggunya sekian lama. Bertemu dengan orang-orang yang telah lama dikenal dengan baik. Bertukar kisah pun menjadi rencana utama ia dalam pertemuan itu. Segala lelah dan resah dikesampingkan demi hari itu.

Duduk ia di ujung meja. Menebar senyum dan memperbarui segala berita pribadi yang tertinggal. Kemudian, pembicaraan berlanjut melebar. Ketika itu pula, ia tertegun. Diam saja.

Pembicaraan di meja itu begitu asing baginya. Tidak tiba-tiba asing, perlahan-lahan saja ia tidak mengenal topik itu. Tak ada satu pun yang bisa dimengerti dengan mudah. Dunianya seolah-olah begitu berbeda. Padahal, ia kenal dengan baik semua orang di meja itu. Ia merasa begitu berbeda di tempat ia merasa seharusnya berada.

Pergi pun tak akan menyelesaikan keterasingan itu. Pertemuan itu semestinya menjadi tujuan akhir, tak ada tempat lain. Orang-orang itu tak pernah menjelma akhir, hidup dalam tiap napasnya. Sayang sekali, ia pun harus merasa asing di kenyamanan yang terpaling.

juni 2009

Friday, June 19, 2009

suatu tempat

Musim kemarau ditinggalkan olehnya. Ia berjalan perlahan mencari air. Ternyata, sesampainya di kota itu, hujan tak henti turun. Bahkan, ia pun terlelah dan segera meminggir. Bertemulah ia dengan orang lainnya di pinggiran itu. Mereka bercerita tiap kisah. Segala tawa pun tak terdengar oleh suara hujan, segala harum tersapu oleh bau hujan yang khas, segala air mata pun terbias oleh rintik hujan.

Dari segala cerita yang dikisahkan, mereka pun tidak selalu satu pendapat. Namun, ada satu kesimpulan yang disepakati, yaitu perubahan yang selalu ada. Dalam setiap satuan waktu, semua terjadi perubahan. Menjadi lebih tahu, melupakan apa yang diketahui, dan menjadi tidak peduli dengan apa yang diketahui. Perubahan regresif dan progresif tetap saja dinamakan perubahan. Mereka sepakat akan perubahan yang selalu dialaminya.

Salah satu dari mereka pun yakin dengan perubahan alasan mengapa ia ada di tempat itu. Ia sadar dengan baik apa-apa saja yang dijadikan alasan menetap, bahkan ketiadaan alasan pun tetap dijadikan alasan yang mengukuhkannya. Dan, pada suatu saat, perubahan itu pun terjadi pada dirinya dan alasannya. Apakan ini tempat tujuan dari perjalanan yang panjang? Telah diarahkan ke tempat ini dan sampai dengan selamat. Atau, ini hanyalah tempat berteduh yang akan ditinggalkan ketika hujan reda dan melanjutkan perjalanan panjang kembali?

Mereka sadar akan segala perubahan yang berkemungkinan terjadi, tetapi mereka tetap membebaskan pilihan semuanya dengan segala argumen dan pikiran yang tanpa dipendam.

Monday, June 08, 2009

dandelion



Kami adalah dandelion berjejer yang mencoba bertahan dari udara dingin malam dan tiupan badai petang. Kami telah mengakar sekian lamanya. Sayang sekali, beberapa saat lalu, angin membawa pergi salah satu dari kami. Ternyata, bergenggam tangan pun masih mampu melepaskan salah satu pada saat yang bersamaan. Akan tetapi, kami percaya, setidaknya aku, bahwa masing-masing masih sanggup bertahan dan beridentitas sebagai dandelion.

Malam ini, salah satu dandelion perlu diselamatkan. Kekuatan kami berkurang. Kami kebingungan dengan formasi baru ini, sementara angin terlalu kencang. Salah satu dandelion sedang tidak ada di tempat. Kerapuhan ini ditutup rapat hingga tidak membau. Air mata ini diseka singkat hingga tidak melenyapkan sisa harapan dandelion lain. Jika saja angin menerbangkan salah satu dandelion kembali, rapatkan jejeran dan tantang kembali segala yang ada tanpa getir. Kini, bercukuplah dengan segala kebimbangan. Sisa kuat akan memampukan, setidaknya itu janji alam.

Maaf, kali ini hanya ada yang bisa diberikan. Siapa tahu bisa cukup menenangkan.

Monday, May 25, 2009

hadeuh

Beraktivitas saja ia seperti hari-hari biasanya. Tidak ada yang terhambat selepas malam itu. Aku tahu benar, ia sedang menatap lekat pecahan-pecahan dirinya. Puing-puing yang berserakan, padahal telah ia jadikan bentukan selama bertahun-tahun. Aku ada dalam pembentukan itu. Kutahu persis setiap langkah dan setiap jahitan pada lukanya yang sudah-sudah. Malam itu semua berhamburan. Tak terarah. Ia tidak tahu lagi tapakannya. Kegelapan langsung meraja lela tanpa permisi. Tetap bertahan saja ia tanpa mudah sedikit pun. Sigap saja dengan percaya yang tersisa pada dirinya.

Biarkan aku ada. Cukup ada. Tanpa kata-kata dan sentuhan secuil pun. Siapa tahu masih ada sadar yang tersisa bahwa ada seseorang yang siap untuk diajak berdiam atau bertukar kata, tanpa meliputi malam itu. Malam itu lewat sudah. Lukanya adalah duka sepanjang masa. Kami tahu betul. Hanya aku yakin ia lebih kuat untuk melewatinya. Ada aku, Kak.

Perjalanan malam itu belum apa-apa. Aku masih sanggup untuk melangkah puluhan kilometer lagi untuk sekadar ada. Kekakuan dalam diam juga bukan apa-apa. Masih mampu kuhabiskan beratus hari dalam kebekuan itu untuk sekadar ada. Kepercayaanmu akanku mungkin memudar, tapi aku hanya akan ada di sini tanpa membuktikan apa-apa. Tidak perlu bukti lagi akan itu, Kak.

unexpected things

Terjadi sudah semua kejadian kemarin malam. Aku tak terlibat di dalamnya, tetapi begitu hebatnya kami terkait. Hati ini turut kacau dan pikiranku terus memacu tanpa tahu apa dan ke mana. Pijakku samar. Tak boleh tampak, walaupun ingin sekali membenarkan segala yang kusut. Tetapi, lagi-lagi, aku berada di luar keterlibatan itu. Kak, berat pula pendengaran, penglihatan, dan perasaan ini. Sungguh! Ini semua harus kulipat baik-baik, serapi mungkin, tanpa terlirik oleh yang lain. Aku baik-baik saja. Itu saja yang perlu diketahuinya.

Siapa tahu ini semua bisa dibagi dalam diam yang ditemani seseduh teh panas. Hangatnya mungkin bisa meluruhkan kebekuan jauh di dalam sini yang tak bisa tersentuh lagi. Aku hanya mau bersemayam sejenak. Mencari keamanan dan kenyamanan yang sudah dibingungkan untuk ditemukan di mana. Semua sudah berlarian. Sebelah bahu mungkin bisa mengistirahatkan sebentar untuk bersender. Ya, kali ini aku tidak akan malu untuk meletakkan kepalaku dan mendekatkan sebelah tubuhku. Tetapi, mohon jangan coba peluk aku. Aku masih ingin menahan uraian air dari mata yang telah tertahan-tahan.

Aku enggan meminta waktu karena nanti pun tidak akan berguna bagi mereka. Ini hanya untuk kebutuhanku saja. Mungkin, kuseduh saja teh itu sendiri dan diam sendiri pun siapa tahu lebih berguna.

Tuesday, February 10, 2009

efek bulan purnama

Entah ada apa, tapi suasana hati sedang tak berkehendak yang bagus. Selalu dalam situasi yang lebih mendukung untuk berbuat semaunya. Setelah beberapa bulan hilang, keadaan ini muncul lagi bulan ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjauhi keramaian dan tidak berkomunikasi panjang dengan orang lain.

Malam itu, saya hanya butuh ditemani dengan jumlah yang minimal sekali. Pilihan masih jatuh pada sahabat lama yang mulai berangsur. Dengan sekenanya, dia justru tahu bagaimana harus menyikapi. Tidak berlebihan dan mungkin memang tidak berkekurangan seperti akhir-akhir ini. Hanya saja, kali ini, saya rela mengikuti cara dia. Masuk ke dunianya.

Satu perjalanan singkat yang berputar. Satu linting yang dibagi dua. Diakhiri dua kaleng bir yang dihabiskan di rumahnya. Tak ada pembicaraan mendalam. Tak ada tawa meledak. Hanya ada. Kemudian, kami sama-sama melanjutkan dunia kami. Dia dengan pekerjaannya dan saya dengan buku saya.

Setelah itu, saya pulang dan berusaha melepas segala harapan agar tak ada kecewa tersisa malam itu. Semoga esok paginya saya bisa kembali normal. Mungkin, pada saat terbawah, saya hanya butuh orang untuk ada. Ada dengan caranya. Tak perlu berbagi dan tak perlu ada kata tepat. Hanya untuk membunuh waktu yang menjerat.

Monday, February 09, 2009

wilayah ini

Ini adalah wilayah yang seringkali dimasuki orang-orang. Kemudian,tak lama mereka segera meninggalkan wilayah ini. Entah untuk keluar melalui pintu lainnya atau ada pula yang segera kembali melewati pintu masuk sebelumnya. Saya dan beberapa orang lainnya kerasan untuk tinggal lebih lama di wilayah ini. Begitu banyak yang ditawarkan wilayah ini. Banyak hal bisa menjadi terlalu di sini. Terlalu senang atau terlalu sedih. Terlalu berani atau terlalu takut. Terlalu lama atau terlalu sebentar. Terlalu ramai atau terlalu sepi.

Banyak yang bilang bahwa terlalu itu tidak baik. Tidak baik menurut siapa? Ada baiknya pula kita merasakan terlalu dalam hidup kita supaya kita tahu batas maksimal dan minimal kita. Kemudian, semuanya menjadi samar. Melihat dengan hati. Berpikir dengan hati. Tap, tetap saja, semua mengabur.

Saya duduk saja di sini. Bukan lelah, hanya merasa tidak pantas untuk keluar dari wilayah ini. Belajar bersosialisasi dari wilayah ini. Kenal untuk merendam egois di wilayah ini. Bahkan, saya ingin melangkah mundur perlahan menjauhi pintu itu, tetapi tetap berada di wilayah ini. Risau ini mulai timbul perlahan. Egois ini mulai enggan bersembunyi. Saya ingin terus mengunci mereka di wilayah ini. Saya belum yakin mereka akan duduk diam dan nyaman tanpa harus memperlihatkan diri di wilayah lain.

Maka, genggam tangan saya di wilayah ini. Seka air mata yang terus mengucur sejak semalam. Tenangkan kami. Lipat sedikit ujung hati saya. Saya ingin bertahan lebih lama di wilayah ini. Tapi, mohon, tahan tubuh ini jika jatuh perlahan.