Memang

Memang, udah lama saya meninggalkan kebiasan tulis-menulis yang untuk dikonsumsi publik, tapi akhirnya tulis-menulis untuk pribadi pun ikut-ikutan ditinggalkan. Ada beberapa alasan. Pertama , saya merasa tulisan yang dikonsumsi publik hanya sebagai ajang bagi orang-orang untuk pamer perasaan, pikiran, dan kegiatan. “Pameran” itu hanya untuk mengeluarkan wacana tentang dirinya dan dinilai oleh pembaca. Sadar tidak sadar, penulis ini sudah mengonsepkan pikirannya untuk mencapai penilaian tertentu. Penulis mengharapkan pembaca terbawa pada pikirannya. Misalnya, menganggap penulis pintar, imajinatif, banyak kawan, bahkan aneh atau introvert. Semua itu memang hanya pemikiran yang tidak ada bukti ilmiahnya. Bahkan, tidak sedikit yang tidak setuju. “Pengungkapan” kata mereka, bukan “penjualan”. Pada awalnya saya hanya menganggap itu sekadar benteng pertahanan saja.

Namun, pada akhirnya, sesuai dengan apa yang diajarkan Siddhartha dnegan karma, saya merasa membutuhkan wadah untuk mengeluarkan semua yang ada dalam tubuh. Memang ada ketakutan tersendiri apabila saya membicarakannya dengan manusia. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari penilaian, termasuk saya. Jadi, apa yang akan saya katakan kepada orang terlalu banyak saringan untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai yang ada. Misalnya, tidak mau dinilai terlalu anehlah, terlalu mengada-adalah, sok gila, atau sok penyendiri.

Berkurangnya orang-orang yang merasa sepenanggungan semakin membuat saya terjebak dalam satu dunia yang serba terbatas. Kadang, keinginan untuk berbicara ngalor-ngidul dengan orang yang tidak dikenal sama sekali sangat diharapkan. Semua selesai ketika pembicaraan selesai. Tidak harus ada penilaian yang tertinggal dan pikiran pun bisa orgasme karena sudah menumpahkan semuanya dan diisi oleh pikiran-pikiran baru. Tapi, ada lagi kendala saya. Saya susah sekali bersosialisasi. Membuat percakapan tanpa “makna”. Belum lagi memikirkan penilaian di balik kepala baru itu. Mungkin akan berbeda ketika bukan saya yang memulai. Atau, punya latar belakang dan kesenangan yang sama. Wah, kalau menemukan orang seperti itu, saya akan tertarik sekali untuk melanjutkan pembicaraan dengannya.

Tidak peduli dengan omongan orang dan pikiran orang. Yap, hal itu sudah saya coba juga. Akan tetapi, saya malah semakin terjerumus dalam dunia imajiner saya. Dan, selalu saja beranggapan tidak akan ada orang satu pun yang mampu menembus batas pengertian ini karena mereka pasti mempunyai keperluan masing-masing, selain memahami dunia yang tak pernah nyata bagi mereka.

Akhirnya, di sinilah saya. Terjebak dengan pikiran dan kata-kata yang pernah saya utarakan sebelumnya. Ada di sini karena kebutuhan. Tidak ada lagi orang sekitar yang merelakan waktu atau sabarnya untuk bualan kosong ini. Saatnya saya mulai lagi memanfaatkan benda-benda mati yang saya hidupkan.

Komentar