kisah lanjutan

Malam tadi kisah kita dimainkan. Banyak orang menikmatinya dan sibuk meraba rasa. Aku senyum saja. Kita pun bahkan sebagai pemeran utama, kala itu tak pernah meraba apapun. Mungkin, aku tidak hanya memberikan senyum untuk mereka yang menerka, aku justru tersenyum mengingat rasa kita waktu itu.

Kita begitu dekat sekaligus terasing. Atau, kita begitu dekat dengan keterasingan? Tidak mengenal membuat kita duduk diam tanpa gusar. Pertanyaan yang diajukan jelas pertanyaan ingin tahu, bukan pengulangan atas keseharian. Semua begitu baru dan segar. Terasa jelas maklum sebagai hasil dari semilir perkenalan mendalam. Tapi, kepastian bukan tujuan utama kita. Itu adalah permainan yang mengakrabkan saja.

Nyatalah bahwa kepentingan kita begitu dekat. Cukup bertahan untuk malam itu. Sama sekali tidak berani menaruh harapan kepada esok. Setiap malam akan berakhir pada malam itu juga. Tak ada perpanjangan waktu. Sedikit atau banyak kata, lama atau sebentar waktu, semuanya harus sudah selesai. Waktu yang tidak kita anggap sebagai kesempatan itu kita gunakan dengan seindah mungkin. Tujuan kita sama, yaitu bahagia. Tujuan yang kita ucapkan memang sama, tetapi tidak berarti makna bahagiaku dan bahagiamu tidak bisa berbeda.

Semakin dekat kita, semakin terbuang asing yang kita banggakan. Kepastian pun dicari-cari. Tak jarang dijadikan sebagai tuntutan yang mengarah kepada keharusan. Tenang kita adalah gelisah. Sibuk menghindar dari topik yang menyingkirkan nyaman. Berkejaran dengan pengertian yang semakin jauh berlari. Dekapan selalu menjadi akhir, tetapi tidak bisa menjadi kunci untuk tidak kembali ke sana.

Semuanya serba berulang. Entah kita dihampiri atau kita justru mencari pengulangan. Padahal, tujuan kita belum berubah. Tujuan kita masih sama. Rasanya, tanpa tujuan bisa membuat lebih tenang. Membiarkan semua terjadi begitu saja. Singkat dan berbekas dan mendalam. Namun, itu adalah perkembangan dari pengulangan, katanya. Di tahap inilah kita seharusnya tetap bertahan. Tidak bersembunyi dan tidak lari seperti yang selalu kulakukan sebelumnya.

Berani. Berani menjalankan idealisme yang tidak manusiawi akan cinta. Perjalanan kisah yang akan menghantar banyak pertanyaan orang saking tidak mengertinya. Namun, kita diam saja tak peduli. Mengagungkan kisah kita dan percaya bahwa jalan itu yang akan menghantarkan kita kepada suatu tahap yang tak perlu diberi nama dan tak perlu diberi batas. Kemudian, kita duduk di tepian terkena tampias hujan seraya tersenyum semaunya. Ya, itu kita sudah sampai pada tujuan kita. Tujuan dengan makna yang berbeda, tetapi satu pengucapan. Bahkan, lebih dalam lagi, tujuan dengan pelafalan yang jauh berbeda, tetapi satu makna.

171109
11.41malam

Komentar