Di atas adalah gambar Gala, dewa waktu. Ia selalu ada di atas pintu Angkor Thom, Kamboja.

Ada satu hal yang menarik. Sekali makan, ia tidak bisa berhenti. Oleh karena itu, Syiwa memanggilnya untuk menghabiskan makanan. Syiwa mengadakan kontes memasak untuk mencari koki. Jadi, banyak sekali makanan yang tidak bisa dihabiskan.

Datanglah Gala—karena diminta Syiwa—untuk menghabiskan semua makanan. Makanan kontes habis, Gala tetap merasa lapar. Akhirnya, Syiwa memberikan semua makanan di istana untuk Gala. Meskipun sudah habis, Gala masih saja lapar. Syiwa sudah tidak punya makanan lagi. Akhirnya, Syiwa meminta Gala untuk memakan tubuhnya sendiri. Gala pun memakan kaki dan badannya.

Akhirnya, ada yang mengadu kepada Wisnu. Wisnu membuat Gala berhenti makan. Tersisalah kepala dan tangannya. Syiwa meminta maaf kepada Gala. Atas dasar permohonan maafnya, Syiwa meletakkan Gala di atasnya. Semua harus berjalan di bawah Gala, kecuali Wisnu. Wisnu selalu duduk di atas Gala. Oleh karena itu, simbol Gala selalu ada di atas pintu Angkor Thom. Mungkin juga Gala ada di candi lainnya, tetapi saya kurang memerhatikan.

Dipercayai, itu merupakan simbol keadaan sekarang. Manusia sering kali merasa berjalan di bawah waktu. Waktu seolah-olah menguasi tindak laku manusia. Apakah benar?

Menurut saya, waktu adalah satuan yang seharusnya mempermudah manusia dalam bertindak laku bahkan dalam berperasaan. Waktu seharusnya memberikan batasan untuk membebaskan; bukan sebaliknya.

Komentar