hadeuh

Beraktivitas saja ia seperti hari-hari biasanya. Tidak ada yang terhambat selepas malam itu. Aku tahu benar, ia sedang menatap lekat pecahan-pecahan dirinya. Puing-puing yang berserakan, padahal telah ia jadikan bentukan selama bertahun-tahun. Aku ada dalam pembentukan itu. Kutahu persis setiap langkah dan setiap jahitan pada lukanya yang sudah-sudah. Malam itu semua berhamburan. Tak terarah. Ia tidak tahu lagi tapakannya. Kegelapan langsung meraja lela tanpa permisi. Tetap bertahan saja ia tanpa mudah sedikit pun. Sigap saja dengan percaya yang tersisa pada dirinya.

Biarkan aku ada. Cukup ada. Tanpa kata-kata dan sentuhan secuil pun. Siapa tahu masih ada sadar yang tersisa bahwa ada seseorang yang siap untuk diajak berdiam atau bertukar kata, tanpa meliputi malam itu. Malam itu lewat sudah. Lukanya adalah duka sepanjang masa. Kami tahu betul. Hanya aku yakin ia lebih kuat untuk melewatinya. Ada aku, Kak.

Perjalanan malam itu belum apa-apa. Aku masih sanggup untuk melangkah puluhan kilometer lagi untuk sekadar ada. Kekakuan dalam diam juga bukan apa-apa. Masih mampu kuhabiskan beratus hari dalam kebekuan itu untuk sekadar ada. Kepercayaanmu akanku mungkin memudar, tapi aku hanya akan ada di sini tanpa membuktikan apa-apa. Tidak perlu bukti lagi akan itu, Kak.

Komentar