tak ada yang cemburu

Aku dan kamu sama-sama diburu waktu. Semestinya, aku dan kamu sudah tidak ada di tempat ini lagi. Tempat panas, penuh asap rokok, banyak sampah, dan sesak oleh orang yang baru selesai makan seperti aku dan kamu. Kita sama-sama terjebak di sana. Hujan sedang senang menunjukkan pesonanya, begitu riang. Turun semaunya tanpa peduli baju kantor kita sudah basah terkena tampiasannya pada jam makan siang.

Banyak orang menggerutu di sana. Pada awalnya, aku tidak ada masalah. Tapi, gerutu itu seperti penyakit menular. Tiba-tiba saja aku merasa panik karena belum ada di kantor jam segitu. Kamu pun diam saja. Tidak ada respons negatif. Justru tersenyum sambil melirik begitu kuselesai mendumel.

Kamu tarik begitu saja tanganku. Berlarian di antara rintikan hujan yang tak mau kalah cepat daripada langkah aku dan kamu. Tertawalah aku dan kamu sambil sesekali melirik. Terus berlari membiarkan baju dan celana basah kuyup. Lompat masuk mobil dan tak berhenti tertawa. Dan, anehnya, hujan pun berhenti setelahnya. Aku dan kamu justru semakin tertawa ketika tersadar rintikan hujan begitu melambat.

Rasa ini begitu sederhana. Semua yang sulit kau permudah dalam sekejap. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kalau ada aku dan kamu. Rasakan dingin itu begitu menusuk, tapi aku dan kamu tak peduli. Sayang aku dan kamu lebih hebat daripada sakit. Sayang tak punya sakit, bisikku. Selagi bisa, selagi dapat, selagi mampu, selagi ada waktu, mari, kita nikmati tulus helai per helai.

Aku dan kamu tidak hebat, bahkan jauh dari kata hebat. Tak ada yang cemburu karena semua terlalu biasa. Sederhana saja. Kita hanya paham, sayang tak pernah mengajak sakit. Sakit itu ciptaan dan menular. Ayo, lari terus, supaya sehat dan tak sakit.

Komentar