Mohon Ceraikan Saya, Dik


“Mohon ceraikan saya, Dik.”
Kawan Bicaranya langsung memberhentikan tawanya, kemudian memasang mata. Tubuhnya dicondongkan ke depan, mungkin tanpa sadar.
Tidak ada kelanjutan. Si Pelontar hanya memasang mata kembali, bisa saja dia juga tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan sesudah mengatakan itu.
“Maksudnya?” Kawan Bicaranya masih menanti penjelasan lanjutan.
“Mohon ceraikan saya, Dik,” kecurigaan saya besar bahwa Si Pelontar tidak tahu kata lanjutannya, maka ia mengulang saja seakan itu lebih jelas dari kalimat pertama. Memang, itu lebih jelas karena menegaskan bahwa yang didengar Kawan Bicara tidak salah.
“Kenapa?” bibirnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu yang tak keluar suaranya.
Si Pelontar mulai melihat ke arah lain. Merogoh jaket warna hijau tentaranya. Melihat ke bawah seakan ada yang dicari di sebelah sepatu yang biasa digunakan untuk naik gunung. Mengambil sebatang rokok dari kotak yang ada di meja, melihat mata Kawan Bicara, menyeruput kopi di hadapannya yang sudah tak berasap. Matanya kembali mencari sesuatu di meja dan menjumput korek di sebelah asbak. Dia mungkin hanya membuang waktu sembari mengatur kata dalam kepala.
“Ada apa, sih? Masa tiba-tiba ada pertanyaan itu habis seharian kita jalan-jalan dan ketawa-tawa?” suara Kawan Bicara mulai meninggi. Rambut panjangnya yang tergerai jatuh lemas di pundak yang tak ditutupi dengan baju kutungnya. Saya melihat turun ke bawah. Kakinya membelit di kaki yang lain dengan ujung sepatu hak 7 cm.
Saya buang pandang, telinga dipasang.
“Mungkin, hubungan ini harus diselesaikan dalam keadaan bahagia.”

*

Saya menatap mata di hadapan saya. Memastikan kami saling menatap dengan telinga yang sama awas. Kawan di hadapan saya tampak asyik memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Ah, kasmaran. Dia kemungkinan besar senyam-senyum karena sedang perang teks. Adu cinta tak berpihak kepada istri orang lain, padahal baru bergelut dengannya kemarin malam. Saya geregetan sendirian.

*

“Maksudnya?”
“Ya...,” hening barang tujuh detik, “kenapa pernikahan tidak bisa selesai dalam keadaan baik-baik saja?”. Saya curi pandang. Mata Si Pelontar tidak terus melekat kepada Kawan Bicara. Tatapannya jalan-jalan.
“Kok aneh? Pernikahan emang bisa selesai?” Saya tertegun. Ada nada manja dalam pertanyaan itu. Saya mengira nadanya justru akan semakin tinggi. Ah, siasat apa ini? Jual kemanjaan untuk belas kasihan? Hush!
“Kita bikin bisa.” Edan. “Kamu kan tahu...”

*

“Film apa yang lagi bagus di bioskop, Nona?” Tangannya masih memegang ponsel. Senyum mesumnya belum hilang.
“Mau pakai modus mengajak nonton, Bung?”
“Kalau bisa, film horor.” Pertanyaan saya tidak dijawab.
“Bukannya pernikahannya sudah cukup horor dengan kehadiran kamu?”
“Sialan. Hahaha.”
Percakapan ini penting. Bukan isinya, melainkan kamuflase bahwa saya sedang tidak curi dengar pembicaraan sebelah. Seakan-akan saya hadir dalam pembicaraan di meja sendiri dan dicuri lihat oleh orang-orang di meja sebelah. Mereka akan merasa aman untuk meneruskan pembicaraannya.

*

“Enggak? Iya? Masih atau sudah enggak?” Kawan Bicara mulai mengeluarkan nada merengek. Ah, saya kehilangan percakapan sebelumnya. Besar keingin saya untuk mencuri pandang lagi, tapi saya tahan betul. Dan, itu sulit. Cenderung rumit.
“Yaaa, masih.” Aha. Ada keraguan di nada bicaranya.”
“Ya, terus kenapa?” Nadanya kembali meninggi. Saya mulai khawatir akan terjadi lempar-lemparan barang pecah belah. Punya rumah tangga tidak, masa saya membawa pulang luka beling?
“Pernikahan hanyalah mekanisme berulang untuk bertahan hidup. Hidup saya sudah susah. Kamu tahu itu. Dan, dengan kamu, saya merasa semua bisa diabaikan.”
“Ada perempuan lain, ya?” Semakin tinggi nadanya.

*

“Nona,” ah, percakapan ini tidak tepat dimulai sekarang, saya penasaran sekali mendengar jawaban Si Pelontar, “kamu dari sini mau ke mana?”
Saya mencium akal bulus dari orang di hadapan saya yang sudah mesem-mesem. “Mau di sini saja.” Saya merasa perlu memberikan jawaban tegas supaya dia bisa duduk diam di hadapan saya. Tak perlu mengajak bicara apa pun. Biarlah adu pesan manis pun semu dengan istri simpanannya dari bangku situ; entah siapa yang menjadi simpanan. Saya punya hiburan lain dari meja sebelah. Dan, mohon, jangan ganggu hiburan saya.
“Mau di sini saja sampai malam? Lampu rumah sudah dinyalakan memangnya? Lagipula, ini juga sudah malam.” Orang di hadapan saya memotong banyak pertanyaan pemanis untuk merayu saya menyelesaikan malam ini. Tidak ada cara melirik jam terus-menerus atau menguap berulang-ulang.
“Janji dadakan, Bung?” saya potong juga pertanyaan berkelit-kelit untuk memastikan.
“Ada tawaran yang susah ditolak. Hehe,” ketawa yang dibuat-buat itu kemungkinan besar untuk mengurangi rasa bersalahnya. Dia juga mungkin sudah mati akal untuk bisa segera menyukseskan hasratnya.
“Suaminya masih di luar kota?”
“Tidak jadi pulang hari ini. Mungkin lagi main gila juga. Saya membantu pasangan rumah tangga ini biar sama-sama impas. Hehe,” usaha pembenaran untuk kesekian kalinya sejak kami duduk di sini.

*

“...sih?”
“Bukan gitu, Istriku sayang.” Sampai mana pembicaraan mereka?
“Sayang, sayang, sayang. Bohong. Semua bohong. Selama ini bohong semua.” Suaranya mulai meninggi dan volumenya membesar.

*

Orang di hadapan saya menoleh. Dia baru awas dengan kejadian di meja sebelah. Menoleh ke saya dengan bola mata yang membesar. Saya tersenyum.
Dia mengambil kunci mobil dan dompet yang sedari tadi ditelantarkan di meja. Dengan tatapan mengajak dan memajukan tubuhnya mendekati meja, ia bilang, “Sebelum hasrat saya hilang gara-gara ini,” matanya melirik menunjuk ke meja sebelah.
Saya tatap dia.
“Mohon tinggalkan saya, Bung.”

*

“Mohon ceraikan saya, Dik.”


Komentar