diskusi pagi

Dia datang pagi itu. Tak ada beban pikiran untuk dikagumi. Dia hanya datang dengan siap. Siap dimengerti. Datang dengan santai saja. Baju putih rapi tapi dipakai sekenanya. Wajah pun tak terlalu serius, tak dimimik sedemikian rupa untuk menarik perhatian. Biasa saja. Sama sekali biasa. Biasa seperti yang lain.

Aku datang juga pagi itu. Lebih awal bahkan. Memang, pagi itu sudah ditunggu. Aku ingin menyocokkan bayanganku dengan kenyataan. Segala konsep yang kubuat sendiri pelan-pelan luntur dan berkembang pada saat yang sama ketika melihat kenyataan pagi itu. Kuperhatikan satu per satu. Putihnya yang lusuh sampai mimik yang seadanya. Bukan ini konsepku, tapi ini adanya. Bisa lebih, bisa kurang. Kenyataan itu tak berhenti seperti konsep yang ada dalam kepalaku. Tidak pernah berhenti. Terus berkembang mengikuti cabangnya. Selalu dalam proses pembentukan, tidak pernah selesai.

Sampailah aku dan dia menjadi kita dalam batas satu diskusi. Kita berdiskusi, walaupun dia tetap menjalankan peran patriarkinya. Mendominasi pembicaraan. Merasa menjadi pemimpin diskusi walaupun kita sedang mendiskusikan pengikisan patriarki. Justru, pada saat yang sama, aku terlalu percaya padanya. Merelakan sebagian eksistensiku untuk menjadi kita dalam konteks diskusi.

Diskusi dimulai dengan membicarakan kisah cinta Sartre. Sampai-sampai, kita membicarakan cinta itu sendiri. Tapi, cinta yang hari itu kita bahas lepas dari perasaan. Cinta seolah-oleh menjadi benda mati yang tidak tabu dibicarakan dan begitu pantas didekonstruksi. Cinta mendadak menjadi objek yang tidak disangkutpautkan dengan rasa. Cinta dekat sekali dengan keber-ada-an hari itu.

Dia begitu paham. Jelas sekali. Entah paham dengan cinta atau tahu akan Sartre dan segala pemikirannya yang begitu dalam. Segala pembicaraannya begitu melekat. Menegaskan segala pemikiran yang telah ada di dalam konsep, sekaligus memasukakalkan segala keabstrakan.

Setelahnya, kuberdiam diri. Eksistensiku jelas-jelas dia usik. Dia seolah mengobrak-abrik apa yang sudah kupercayai. Apa yang baru dia berikan, langsung dihancurkan begitu saja. Ini semua bukan tentang rasa. Justru itu yang lebih menyulitkan. Tempat di kepala ini terlalu sesak untuk ditambah lagi dengan sedikit yang dia tahu. Aku menjadi gamang.

Merasa jauh lebih sedikit tahu tapi justru semakin banyak yang kutahu karena itu. Dia pun dalam putihnya melihat perubahan aku. Melihat usahaku untuk menutupi kegelisahanku untuk mencari ada di antara keterkikisan. Dia menenangkan dengan caranya. “Diri, identitas, dan kebenaran selalu dimulai dari awal, selalu dalam proses pembuatan, selalu berjalan, fleksibel, sekaligus fluktuatif. Tidak pernah ada garis akhir.”

Aku berkekurangan dan berkelebihan. Merasa kurang dengan apa yang kukira cukup. Merasa lebih dari tingkah yang seharusnya lebih wajar. Dia berhasil mewajarkan segala yang berlebihan.

Diskusi panjang itu pun ditutup singkat saja. Janji. Dan, ucapan terima kasih.

Sepulangnya, aku mencoba meredefinisi apa yang kita bahas. Bagiku, memenuhi cukup mewakili saat ini. Kali ini, bisa saja hanya aku yang merasa dipenuhi. Biarkanlah kita tetap ber-ada dalam proses pembuatan diri, identitas, dan kebenaran. Dan, masih buatku, pemenuhan ini tetap kucari. Pemenuhan merupakan proses dari hasil redefinisi yang kulakukan. Dia berperan di dalamnya.

Diskusi tadilah konstruksi tentang cinta. Mungkin tidak seperti orang-orang. Mungkin masih bisa dipecah-pecah lagi. Tapi, di situ, semua ada dengan sadar.

Komentar