Penyair #1


Siapa yang sudah bosan dengan pertanyaan yang itu lagi dan itu lagi? Kali lain ada yang bertanya, jawabannya tak jauh berbeda. Ini adalah pencarian akan penyair. Yang bersemayam dalam duka. Ia hidup dari luka. Maka, dipeliharalah perih sehingga tak pernah berkesudahan.

Satu lagi nekat bertanya, apa yang bisa ditawarkan dari duka?

Jika kelancangan itu terjadi nanti, mohon jangan tinggalkan dia. Bukan luka yang tidak ia kenali. Tak juga rapuh yang jarang menggelitik. Siapa tak butuh lancang?

Ceritakan lagi kisah kesukaan anak kecil itu. Syahdan, seorang anak terjatuh berulang kali. Bisa berulang karena ia sempat bangun. Dari mulai tidak tahu cara untuk menekuk lututnya untuk berdiri sampai hapal betul cara berlari dari jatuh. Pun, ia tahu bahwa berjalan berhati-hati sembari melihat bawah juga bisa membuatnya tetap jatuh. Berlari kencang juga tetap jatuh. Orang-orang dari pinggir jalan akan meneriakinya untuk terus berlari kencang. Tapi, itu bukan pilihannya. Ia ingin menikmati sekitar.

Melihat lampu-lampu kota yang makin hari makin temaram tanpa dipedulikan. Mendengar daun melayang hingga jatuh jauh dari kumpulannya. Merasakan angin berdesir menerpa tubuh lunglai. Mencium aroma lebah yang sehabis hujan sebentar. Mencicip ujung bunga soka di pinggir jalan. Ia tahu ia akan tetap jatuh. Dan, ia tetap terus berusaha menopang tubuh pada kedua kaki.

Maka, jatuh berulang kali menumbuhkan keberanian. Duka menawarkan kekuatan.

Bila kelancangannya tak berhenti di situ, bilang lagi bahwa ini adalah perjalanan untuk mencari penyair. Ia duduk sendiri tanpa keresahan seperti yang diperkirakan orang-orang. Ia paham, tak hanya sekadar tahu, akan kehidupan yang berjejalan. Menyaring riuh keterangan yang tak sempat diterka dengan genggaman luka yang tertoreh.

*

Penyair, malam ini begitu dingin. Apakah kau masih ingin duduk sendiri di luar? Jagalah kesehatan, Penyair, kami masih butuh kata-katamu yang jauh dari manis lagi puitis. Rangkaian yang meninabobokan kaum yang enggan merasa dan lebih sibuk berpikir.

Dan, kau pun enggan menjelaskan banyak hal untuk dikira lebih tahu. Hidup ini milik masing-masing. Tiada yang lebih tahu daripada siapa pun. Tiada yang lebih perasa dari siapa pun. Maka, tiada yang lebih percaya dari siapa pun.

Apa yang membuatmu tak beranjak dari sini? Begitu tanyamu suatu malam. Jawaban yang kau dapatkan, apa pula yang membuatmu tak beranjak dari sini? Jeda lama itu terpecah dengan sautanmu, kamu tidak pernah mempertanyakan kesendirianku, tak juga menanyakan asal lukaku, juga tidak sekalipun menghiburku. Kamu di sini karena kamu ingin berada di sini. Merasakan sepernasiban akan keluntang-lantungan ini semua.

Setelahnya, saya beranjak. Apa bedanya kamu dengan penyair lain? Menilai semaunya, pun benar. 

Komentar