Penonton Luka

Setiap malam, ia menyirami tanaman di depan kamarnya sambil menyanyikan satu dua larik dari tembang yang lewat di kepalanya--tembang yang jarang didengarkan dalam volume besar jika ada orang lain. Setelahnya, dia siram juga luka yang belum tentu penuh duka. Saya kadang dibiarkan untuk melihatnya. Dirawat benar lukanya, dengan penuh hati-hati. Hati-hati yang saya maksud adalah membersihkan kulit di sekitar luka dan mengamatinya dari jarak yang sangat dekat. Setelahnya, ditiup-tiup luka itu, "Biar cepat kering," jelasnya tanpa ditanya. Dipandanginya lama-lama luka itu, mungkin ingin tahu dia seberapa membaik atau memburuk lukanya. Bisa jadi, lukanya begitu-begitu saja. Lalu, dia akan lempar senyum kepada saya. Lebar. Selebar senyuman yang baru dapat kata rindu dari sang pujaan di pulau seberang. Mungkin benar, sebagian orang hidup dari luka.

Dan, saya hanya bisa melihat betapa dia begitu merawat lukanya. Lain kali, saya akan menyanyikan satu atau dua larik dari tembang kenangan ketika dia sedang sibuk bersih-bersih luka.

Suatu malam ketika buntung dan untung begitu saru, saya dan dia khawatir. Jangan-jangan, kita hanya butuh penonton pada saat membersihkan luka untuk meyakinkan diri sendiri bahwa biar begini-begini saja, kita jagonya merawat luka.

Dan, saya lebih khawatir ketika saya dan dia melebur jadi kita. Ah, ini akan jadi luka baru lagi.

Komentar