Salju dan Temaram

Satu-satunya yang menyelamatkan kita adalah temaram. Di bawah lampu di ujung jalan itu, kita berdiri saja menggigil. Sekitar lain gelap. Mobil-mobil yang masih tampak akibat ketemaraman diejek salju yang terus turun. Itu jejak salju yang berlalu ketinggalan. Membuat dingin semakin menusuk. Apakah yang berlalu kemudian meninggalkan jejak kerap semakin menikam? Tapi, dari mana kita tahu itu sudah berlalu? Ini salju saja terus turun, yang sudah diam menetap, seolah menolak untuk hilang dalam kecairan.  

Tangan kita ada di dalam kantung-kantung masing-masing. Ini usaha untuk cari hangat yang hampir sudah tak mungkin. Tapi, masih ada usaha lain yang jauh lebih semu. Kita sama-sama mengernyitkan badan, juga terus menghembuskan napas lewat mulut. Itu asap dingin ingin saja diubah jadi asap hangat. Dalam ketakberdayaan, kesemuan seringnya jadi harapan palsu. Seperti temaram ini. 

Seperti Sitor yang pernah bertanya kepada Chairil, mana yang lebih sedih: nenek terhuyung tersenyum atau petualang mati muda. Kali ini, pertanyaannya mana yang lebih menghangatkan, berpegangan tangan atau menyimpannya dalam kantung masing-masing? Saya melirik Anda yang sedang mencuri-curi pandang juga. Apakah ada pertanyaan yang sama? Setidaknya, kantung ini lebih menjanjikan penerimaan. Apakah kita siap dalam penolakan di bawah ketemaraman?

Ini salju tak jua sia-sia. Kita masih mengharapkan kehangatan pelukan ibu, pun badannya digerogoti kehidupan. 

Komentar