Mas, aku kangen

"Mas, ini rasanya seperti mimpi."
"Ini memang mimpi kamu."

Itu adalah percakapan terakhir nyaris setahun lalu ketika kami sedang akrab-akrabnya.
Waktu memang menelan banyak keakraban. Atas nama bertahan hidup, saya mengasingkan diri. Dia sibuk dengan urusan rumah tangganya. Juga keluarganya.

Satu hari, ketika saya tidak tahan betul dengan kehidupan, nama dia adalah satu-satunya yang ada di kepala untuk dikirimi surat.

"Mas, saya mau bunuh diri. Mimpi saya berujung mimpi buruk. Saya ingin segera bangun. Tapi, saya tahu bahwa yang saya jalankan adalah mimpi buruk, tanpa bisa pernah bangun. Saya mau tidur saja. Selamanya."

Saya tidak mendapat balasan kilat. Saya buka facebook, saya lihat orang-orang ambil foto dia yang sedang tertawa-tawa di tengah keramaian. Saya buka instagram, saya lihat dia sedang berjalan-jalan dengan motornya sambil memburai tawanya. Saya buka path, saya melihat dia dengan keluarganya yang begitu intim. Saya kirim surat lagi.

"Mas, sibuk?"
"Banget."

Jawabannya singkat. Cukup tidak meyakinkan mengingat kehidupan yang terpapar di media sosialnya. Tapi, saya mau jawaban yang lebih panjang. Saya mau tanggapan yang tak selesai-selesai. Saya mau minta perhatiannya.

"Tapi, saya mau bunuh diri. Masih sibuk?"
"Kamu mau aku buat petisi #menolakamaliabunuhdiri?"

Saya tersenyum membacanya. Jawaban khasnya. Saya memikirkan balasannya sampai tertidur dan lupa untuk membalasnya. Lima hari berlalu. Keadaan dalam kehidupan sedikit banyak berubah. Si nona anu nilainya lebih bagus. Si nona inu jadian sama gebetan. Segala berita buruk dan pengalaman buruk berebutan datang. Kemudian, saya coba kirim pesan lagi.

"Mas, aku frustasi. Aku bukan yang terbaik. Aku keduluan orang lagi."
"Bukan pertama kali, kan."

Jawaban itu  pun saya dapat empat hari kemudian. Dan, saya perhatikan betul bahwa dia menggunakan titik, bukan tanda tanya. Saya semakin frustasi.

Baiklah, kali ini, saya benar-benar mau bunuh diri. Tapi, saya merasa perlu ketemu dia sebelum mati gantung diri. Saya bertekad menghampirinya. Untuk mengunjungi dia di kotanya, saya pesan tiket pulang. Juga tali tambang untuk dikirim ke alamat rumahnya demi punya alasan untuk bertemu dengannya nanti. Bilang saja mau ambil tali tambang di rumahnya untuk gantung diri, sekalian pamit untuk terakhir kalinya. Dia pasti buka pintu dan kasih tanggapan yang tak selesai-selesai. Beri perhatiannya.

Saya kirim pesan sebelum pulang tanpa mau kasih tahu bahwa saya akan datang ke kotanya.

"Mas, aku kangen."

Saya tidak mendapat balasan bahkan sampai sudah mau naik pesawat. Tapi, saya tetap pulang mesem-mesem. Mau ketemu dia. Saya pakai pakaian terbaik. Pakai baju warna hitam. Sekalian nanti supaya darahnya tidak terlihat. Kemudian, saya pikir lagi, gantung diri kemungkinan tidak mengeluarkan darah. Tapi, biarlah, baju hitam saya memang pakaian terbaik. Saya mau bertemu dia dengan pakaian terbaik, eh mau mati dengan pakaian terbaik saya.

Sesampainya di kota dia, saya langsung menuju ke rumahnya. Cegat taksi. Dia tidak saya beri kabar terlebih dahulu. Ini kejutan. Dengan baju hitam dan celana panjang dan satu tas punggung, saya kasih tahu alamat lengkap dia ke sopir taksi. "Pak, tolong antar ke Jalan Kembang Hati, dekat Manggarai situ." Hapal di luar kepala.

Hampir dua jam perjalanan dari bandara. Jalanan macet. Dekat  rumahnya, jalanan semakin macet. Saya sudah muak dengan kemacetan, lagi pula rumahnya juga sudah dekat. Saya bilang ke sopir taksi, "Di sini saja, Pak. Saya jalan kaki saja. Sudah dekat." Saya turun setelah membayar taksi. Uang terakhir saya. Saya tidak punya uang lagi. Tapi, saya tidak butuh uang, toh saya mau mati. Gantung diri.

Dalam perjalanan ke rumahnya, saya harus melewati kerumunan orang. Saya bisa mendengar percakapan orang-orang di jalan yang saling beri kabar. Begini hasil curi dengar saya.

"Gantung diri. Mati. Pakai tali tambang."

Dan, saya keduluan lagi.





Komentar

  1. Juga tali tambang untuk dikirim ke alamat rumahnya demi punya alasan untuk bertemu dengannya nanti. Bilang saja mau ambil tali tambang di rumahnya untuk gantung diri, sekalian pamit untuk terakhir kalinya.

    Alasan.. Sukak iniii!!!!

    BalasHapus

Posting Komentar