Malam Penghargaan

Selamat malam.
Yang saya hormati: Ibu dan Bapak Juri, juga Ibu dan Bapak RT serta RW, Bapak dan Ibu di rumah yang saya harap tidak mendengarkan ini, apalagi kakak-kakak saya; yang saya sayangi: teman-teman yang sudah membuang-buang waktu, saya ucapkan selamat malam.

Saya tidak mempersiapkan omongan ini. Sama sekali tidak. Jadi, ini saya rada bingung harus bicara apa. Ini semua di luar dugaan. Untuk sesuatu yang terjadi di luar dugaan, tentu saja ini bukanlah yang pertama kali dalam hidup saya. Tapi, tetap saja, selalu ada efek kejut. Selalu terasa seperti yang pertama. Efek kejut itu bisa bermacam-macam. Yang satu ini, tentu saya merasa tidak pantas.

Bagi saya, bisa dikatakan cukup seringlah—kalau tidak bisa dibilang banyak—saya mendengar kisah yang lebih tragis daripada cerita-cerita yang terjadi dalam hidup saya. Jadi, sebagai salah satu penerima Penghargaan Pecundang Andal, saya merasa sebenarnya saya kurang sepecundang itu. Pun, memang, memang benar, saya memang pecundang. Tapi, saya yakin masih banyak yang lebih pecundang dari saya. Yang lebih jago menangani kepecundangannya lebih banyak, jauh lebih banyak. Kisah mereka boleh lebih tragis, tapi cara penanggulangannya juga jauh lebih praktis dan ekonomis, juga efektif dan efisien; semua kata sifat yang bagus-bagus, lah. Nah, ini baru saja terlintas dalam benak saya, mungkin itulah yang membuat saya mendapatkan penghargaan ini. Saya kepayahan menangani kisah yang tidak berat-berat amat. Jadi, mungkin saya pantas-pantas saja.

Ini biasanya harus bilang apa, ya? Terima kasih-terima kasih gitu, ya? Waduh, saya juga bingung harus berterima kasih kepada siapa. Kasian juga, mereka sudah begitu berguna dalam kehidupannya, kemudian dikasih ucapan terima kasih sebagai orang yang mendukung dan menginspirasi seorang pecundang yang memenangkan penghargaan pecundang terbaik. Nanti, mereka jadi merasa punya cukup andil. Bisa rusak nanti citranya. Bisa lebih parah, mereka bisa mempertanyakan dirinya sendiri, "Apakah saya sekacau itu?" Kasian. Jangan, lah. Jadi pecundang saja, kok, ajak-ajak orang? Banyak hal memang perlu dilakukan sendiri-sendiri saja, tidak perlu mengajak atau mempengaruhi orang lain. Yah, seperti jadi pecundang ini.

Belum lagi, kalau sebut-sebut nama orang dalam hal ini, rasanya kok masih ada dalam fase, “ini bukan karena saya, ini karena mereka” sambil menunjuk-nunjuk depan mukanya. Pun, itu sebenarnya salah satu ciri pecundang, ya. Tapi, sekarang saya, kan, harus pura-pura untuk meninggalkan ciri-ciri itu: mengajak orang jadi pecundang, menyalahkan orang yang seakan menjadikan saya pecundang. Ini semata biar juri merasa salah penilaian saja. Padahal, dalam pikiran saya, mungkin memang demikian. Yah, mereka memang tidak salah-salah amat.

Kalau memang terpaksa untuk mengucapkan terima kasih, saya mau tujukan kepada orang yang menciptakan peribahasa atau apalah itu namanya. Isinya begini, “apapun yang kamu lakukan, lakukanlah yang terbaik”. Itu cukup mengilhami saya, mungkin tanpa sadar. Kalau saya cuma bisa jadi pecundang, jadilah pecundang yang andal. Maka, hari ini, dalam hari penghargaan ini, saya baru saja merasa tidak menjadi pecundang. Saya sudah berhasil, mungkin satu-satunya keberhasilan, untuk menjadi pecundang andal. Mungkin, dalam acara penghargaan selanjutnya, panitia perlu mempertimbangkan ini. Penghargaan ini hanya membuat para pecundang tidak merasa bahwa ia adalah pecundang, justru keberhasilan. Pada saat yang sama, itu menunjukkan bahwa kurasi yang sudah susah payah dilakukan malah dianggap salah penilaian pada ujungnya; tiada guna. Tapi, itu urusan panitia, lah, bukan urusan saya. Mungkin mereka memang perlu untuk mengadakan acara tanpa tujuan jelas untuk cari pasar atau memanfaatkan uang-uang sisa yang sudah bingung untuk diapakan atau juga mungkin untuk meyakinkan diri mereka bahwa sepecundang-pecundangnya mereka menjadi manusia masih ada pecundang lain yang lebih ulung. Padahal, tenaga, waktu, dan uang ini bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Tapi, yah, bisa jadi kepecundangannya juga bikin mereka merasa lebih malas—kalau tidak mau dibilang pantas—untuk mengalokasikannya pada acara-acara semacam ini. 

Kembali tentang saya. Pecundang, kan, selalu tentang dirinya sendiri. Jadi, saya tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk tidak bicara tentang saya. Saya coba ingat-ingat, saya tidak tahu kapan pertama kali saya mulai menekuni kepecundangan ini. Di penghargaan-penghargaan lain, biasanya dalam omongan di depan begini, mereka akan bilang bahwa mereka mulai giat melakukannya sejak kecil untuk semata-mata menunjukkan penghargaan itu patut dan layak didapatkan karena hasil kerja keras bertahun-tahun, mimpi yang dipupuk. Saya merasa ini sudah mendarah daging, tidak perlu ada usaha apa-apa untuk menjadi pecundang. Diam-diam saja, eh ternyata sudah jadi pecundang. Atau, ini juga ciri jadi pecundang, ya?

Sebenarnya, kalau dipikir singkat, tidak mudah juga untuk jadi seorang pecundang ulung. Jangan dikira ini juga pencapaian tanpa usaha. Memang tidak keras-keras usahanya, tapi kecil atau besar, itu namanya tetap usaha. Pecundang itu perlu ketebalan mental yang luar biasa. Awalnya dari kuping. Pecundang bisa tidak mendengar omongan orang tanpa harus menutup kupingnya. Bahkan, tatapan mata kami bisa begitu mendalam, padahal kami tidak tahu apa yang orang lain katakan, apalagi kalau tentang diri kami. Bukan karena tidak paham, kami hanya tidak mau mendengar. Kemudian, mata. Kami bisa seperti tidak melihat apa-apa ketika orang sibuk melakukan apa yang harus mereka lakukan di depan mata kami sendiri. Tugas pecundang satu-satunya adalah memastikan merekaorang-orang yang sibuk itumerasa hidup kami jauh lebih enak daripada mereka yang sibuk hidup. Selanjutnya adalah hati. Segala tikaman dan omongan busuk itu hanyalah air putih bagi kami. Pecundang tumbuh subur dari sana.


Satu-satunya kelemahan pecundang adalah merasa dipahami dengan tulus. Itu adalah tantangan tersulit bagi pecundang. Kami—setidaknya saya—merasa begitu gelisah, serba salah, juga resah. Bagaimana mungkin konsep kepecundangan ini dipahami? Ini gawat darurat. Siaga satu. Pilihannya adalah semakin menunjukkan semantap-mantapnya, "Saya ini pecundang sungguh-sungguh, bukan musiman, apalagi mesuman." Kalau masih tulus juga, itu sudah semakin gawat. Itu masuk ke pilihan selanjutnya. Ada kemungkinan kami merasa bosan menjadi pecundang. Pecundang, kok, dipahami? Sejak kapan? Itu bisa menistakan sejarah kami yang memang tidak pernah panjang. Kadang, tergoda juga untuk menarik mereka menjadi anggota sementara atau syukur-syukur bisa tetap dan siap membentangkan tangan seraya berkata, "Inilah tubuhku dan darahku. Selamat datang di dunia pecundang."

Salam pecundang. 
Selamat malam. 

Komentar