Masih tentang Bundaran HI

“Setiap usaha layak diapresiasi.” Saya pernah bilang demikian dan saya perlu setia dengan omongan sendiri. Maka itu, kali ini, saya ingin mengapresiasi usaha pemerintah—melalui tangan Dinas Pertamanan dan Permakaman DKI—yang dengan cerdasnya menaruh tanaman-tanaman pemanis di seputaran Bundaran HI bagian dalam. Cerdas! Ini adalah usaha kesekian mereka, mulai dari membuat
kolam sehingga menjadi licin, menaruh tulisan “awas, bertegangan tinggi”, melarang motor-motor untuk lewat, dan sekarang tibalah saatnya menaruh tanaman-tanaman itu. Saya baru melihatnya malam ini, padahal ternyata ini sudah dimulai sejak Maret 2016—telat 2 bulan.

Alasannya mempercantik, begitu kata poskota dan beritajakarta, demi Corporate Social Responsibility (CSR). Sebenarnya, saya masih belum menemukan ini bentuk tanggung jawabnya apa dan bagaimana. Apakah mempercantik sekarang jauh lebih humanis daripada memanusiakan? Apakah mereka sadar berapa banyak orang yang direnggut haknya untuk menikmati Bundaran HI dengan keberadaan tanaman-tanaman itu? Apakah itu justru salah satu upaya mereka juga, seperti coba-coba mereka terdahulu (yang sudah disebutkan di atas) untuk merenggut ruang publik lagi? Siapakah yang diuntungkan dengan tanaman-tanaman itu? Orang-orang yang sedang berada dalam mobil-mobil yang lewatkah? Orang-orang yang menginap di Hotel Indonesia Kempinskikah? Orang-orang yang sedang minum kopi di mal-mal itukah? Mungkin, mereka yang layak terhibur adalah orang-orang dalam Transjakarta yang berlalu. Tapi, siapakah yang tidak dipikirkan kerugiannya?
Seorang bapak tua, setiap menjelang maghrib, biasanya duduk di pinggiran situ. Datang setiap hari dengan membawa gelas plastik dan handuk. Ia menggunakan air di kolam Bundaran HI untuk membilas tubuhnya. Beberapa pasangan—kadang mengajak anak-anak—memadu kasih dengan cara bicara santai sambil menikmati kopi starling (tukang kopi keliling). Sekelompok anak muda bermain gitar dan bercanda-canda sambil duduk-duduk di pinggiran Bundaran HI. Para buruh beristirahat di sekeliling Bundaran HI pada hari buruh. Orang-orang yang masih mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk melakukan aksi sebagai pengawasan publik atas kekuasaan pemerintah. Ada interaksi sosial di Bundaran HI. Ada upaya warga Jakarta untuk merasa akrab dengan kotanya. Dan, apa peran tanaman-tanaman itu?

Tanaman-tanaman tersebut mengurangi—kalau tidak mau bilang menghilangkan—interaksi sosial dan interaksi antara warga dan kotanya. Ruang diskusi ditutup dengan alasan mempercantik dalam rangka pemenuhan tanggung jawab sosial korporasi? Memang, masih ada ruang duduk-duduk di sana. Yang tertinggal hanyalah tangga menghadap Hotel Indonesia Kempinski dan menghadap kantor pos polisi yang katanya adalah pengawasan keamanan. Starling-starling bertahan, pun tidak seleluasa sebelumnya—seakan sebelumnya leluasa(?).

Memang, ini bukan akhir segalanya. Jelas, banyak orang punya strategi yang lebih ampuh nantinya. Misalnya, aksi “menyiram tanaman bersama” untuk mendukung urban garden? Memanfaatkan partisipasi publik untuk menyelesaikan tugas pemerintah seperti yang biasanya dilakukan?

Komentar