Pasangan-Sarapan: Kopi dan Roti



Pagi ini, secangkir kopi panas dan setangkap roti dibuat sudah. Niat hati ingin mengantarkannya kepada yang bekerja semalaman. Mempermudah lelah untuk hari yang masih panjang. Bukan hanya itu, duka akan bom yang terjadi di Boston pagi ini juga memicu saya untuk melakukannya. Dunia seakan merampas harapan dan saya hanya ingin berbagi sedikit untuk mengingatkan adanya kebaikan, apalagi pagi hari.

Tunggu. Bukan, itu bukan alasan. Ya, mungkin hanya sepersekian bagian dari pembenaran. Namun, meskipun tidak ada tragedi itu sama sekali, saya mungkin akan tetap membuatkan pasangan-sarapan ini.

Sebelum berangkat, niat yang sudah bulat pun saya pertimbangkan. Berbagai kemungkinan bisa jadi mempermudah atau justru mempersusah. Kemungkinannya demikian. Ia akan tersenyum, yang bisa jadi seolah-olah bahagia, ketika menerimanya. Itu adalah kemungkinan terbesar karena apresiasinya akan usaha melakukan itu semua. Itu hal yang setidaknya dilakukan manusia ketika menerima sesuatu yang sekiranya dianggap baik.

Kemungkinan selanjutnyalah yang menjadi bahan pertimbangan. Bisa saja dilahap semuanya dengan hasil akhir seperti yang saya inginkan: mempermudah kelelahan. Atau, bisa juga ia akan berpikir ini adalah sesuatu yang berkelebihan dan justru menjadi begitu menyeramkannya.

Kalaupun kopi dan roti tersebut urung diantar, tidak ada kemungkinan yang terjadi; menyisakan saya dengan pengalaman niat baik tak selalu mudah. Saya kira itu bisa jadi tidak terlalu sulit daripada kemungkinan yang sudah saya sebutkan. Berbagai pembenaran lain saya coba ciptakan, seperti roti ini memang manis dan ia tidak suka yang manis-manis, termasuk rasa terganggu untuk meninggalkan pekerjaannya barang sebentar untuk mengambil antaran pasangan-sarapan yang masih siap saji.

Alhasil, pagi ini, di kantor, saya siap menghirup aroma kopi panas kedua dan juga ada setangkap roti yang siap disantap kapan saja. Meskipun demikian, semoga lelahnya tetap mudah. Lebih semoga lagi, saya masih menyimpan tenaga untuk niat baik lain yang mungkin untuk orang lain pula.

Begitulah pagi kemungkinan saya. Begitu pulalah saya mengingat lagi kutipan gubahan saya dari Bung Chairil, "mampus kau dikoyak-koyak ilusi".

Selamat pagi!

Komentar