Pernikahan


Dari cerita dongeng, pernikahan disebut-sebut sebagai tujuan akhir dengan peran emansipasi kebahagiaan. Harapan melambung tinggi; tepat seperti yang didambakan penulis hikayat. Ketakutan diempaskan begitu saja demi menyandarkan kehidupan seperahu berdua tanpa kehilangan senyum sepersekian detik.

Namun, hidup tak semata hanya dari dongeng. Selama perjalanan hidup, pengalaman hidup orang lain dapat memberikan mozaik yang bicara tentang kehidupan, termasuk pernikahan. Sebut saja semua kata yang keluar pertama kali ketika mendengar kata“pernikahan”. Lain pengalaman, lain pula asosiasi yang didekap.

Bahagia. Rukun. Selisih. Toleransi. Kompromi. Bungkam. Terbatas. Bebas. Reproduksi. Selingkuh. Belajar. Bersama. Percaya. Tidak cocok. Kesenjangan. Paham. Aman. Resah. Girang. Tunggu. Terdesak. Puas. Pasrah.

Maka itu, pandangan tentang pernikahan pun melebar. Dongeng-dongeng menjadi mitos berdalih lebih realistis. Kepercayaan akan pernikahan melenyap perlahan. Atas nama cinta masihkah bisa dijadikan dayung kehidupan? Tak ada jawab yang bisa membungkamnya.

Namun, setiap orang berhak berdiri di atas batuan dalam hidupnya; merangkai sendiri mozaik kehidupan yang diamati diam-diam oleh banyak orang meskipun jendela tertutup rapat. Cinta ini milik sendiri. Butuh perjalanan panjang untuk mengejanya fonem demi fonem kemudian turut cipta makna yang sebelumnya tidak ada. Penghargaan tertinggi atas perjalanan yang tidak mudah.

Maka itu, mereka butuh keyakinan berlebihan sebelum mengucap janji sehidup-semati, sebelum melenggang di atas pelaminan, sebelum bergelut dengan hasrat bercampur cinta. Atas nama pembenaran, mereka menyuruk kisah berdua tanpa tahu waktu. Memberi ujian tidak berkeputusan tanpa pernah menemukan jawaban yang dicari. Menanyakan kembali suatu keputusan yang telah diambilnya tanpa tahu hasil akhirnya.

Bukankah itu bagian dari hidup? Biarkan mereka beralkisah terus-menerus tentang penemuan makna mereka. Tak perlu diganggu kebenarannya karena sungguh jejak kita pun berlainan adanya. Sekap ketidakpercayaan kalian. Ini saat mereka. Ikutlah merayakannya.

Dan, percayalah, menjelang masanya itu, pertanyaan bertubi-tubi sudah pasti tak bisa dihindari. Lari ratusan kilometer ataupun bersembunyi di balik semak-semak tak akan menjelma jawaban. Kepastian itu milik cinta. Satu-satunya cara adalah mempercayai cinta. Dan, kita punya cara masing-masing.

*gambar diambil dari http://weheartit.com/entry/16105478

Komentar