“Apalah relasi antara ruang dan makna?”

Saya belum muak bicara tentang ruang. Lupakan sejenak tentang jarak yang mencelahkannya. Namun, pertanyaan semacam itu bukan yang sekali atau dua kali terlontar, bahkan dalam diri saya sendiri kadang. Coba, kalau Anda sedang punya keinginan untuk buang-buang waktu dan tahan dengan kebosanan, Anda boleh menemani saya dalam ruang ini untuk bercerita.

Sebelum berlanjut, ini bukan cerita menyenangkan melulu. Saya punya pengalaman terhadap berbagai ruang, mungkin Anda juga. Nyatanya, tidak perlu menjadi orang yang asyik atau menarik untuk bisa berada di beragam ruang. Ini tentang salah satu ruang selama 6 tahun, termasuk satu tahun tidak berada di ruang itu. Jadi, apakah ruang selalu sesuatu yang bisa dilihat? Atau, selama bisa membayangkan dan merasakan ruang yang sama, itu masih bisa disebut ruang?

Apalah relasi antara ruang dan makna.

Pesimis. Itu mungkin awal mula kehadiran di ruang itu. Banyak hal saya percaya tidak akan terjadi, bahkan tidak melihat ada kemungkinan untuk terjadi. Namun, di ruang tersebut, saya dikelilingi oleh orang-orang yang masih percaya. Keberadaan saya di ruang itu bersama mereka membuat interaksi sosial berulang. Ada pemahaman-pemahaman yang saling dipertanyakan. Ada keluhan-keluhan usang yang segera dibuang. Ada ragu yang saya pelihara; ada biar yang merajalela.

Kemudian, satu perjalanan macet yang menggoda bengong, saya mempertanyakan diri saya, apa gunanya pesimis? Ke mana pesimis bisa membawa saya? Tentu saja, dengan jumawa, saya bilang bahwa saya memang tidak ingin dibawa ke mana-mana. Dan, pertanyaan itu tidak hilang-hilang. Dan, interaksi ‘saya’ dengan ‘mereka’ menjelma ‘kami’.

Ruang membuat kami terbiasa dengan mimpi-mimpi yang bergelut. Lalu, bicara tentang sesuatu yang tidak ada menjadi hobi baru. Kami selalu tergelitik ketika membicarakannya. Kami selalu menggebu-gebu ketika membicarakannya. Di antara ‘ayo’ dan ‘sudahlah’, ketekunan kami jajal yang entah untuk apa. Juga usaha kecil-kecil yang juga entah untuk siapa. Tapi, kami percaya bahwa ini bisa membawa kami menuju ke sana biar tidak melulu di sini.

Ini memang layaknya cerita yang berakhir baik, ya? Tapi, ada luka yang membekas dan dengan cepat kami amplas tanpa menunggu mengelupas. Ditinggalkan oleh kami-kami atas nama mimpi-mimpi yang lain. Dihadang oleh mereka-mereka atas nama reka-reka yang tidak masuk akal. Disusupi lelah dan bosan yang nyaris membuat kami mempertanyakan lagi mimpi ini. Sayangnya, semakin diragu, semakin angkat dagu. Entah itu sayangnya atau untungnya.

Mungkin, saya termasuk salah satu dari kami yang meninggalkan untuk mimpi yang lain. Dan, hari ini, saya melihat mimpi itu terjadi. Dengan tubuh yang penuh luka dan darah yang mengering di sekujur tubuhnya. Tapi, apa lihat wajah-wajah itu? Berteriak garang dengan urat menyala di leher-leher yang nyata.

Apalah relasi antara ruang dan makna?

Itu tanyanya lagi? Jelas, kalau saya tidak berdiam lama di ruang itu, makna saya akan banyak hal juga masih begitu. Saya tidak akan ada di sini. Dan, saya akan melepeh harapan tanpa sempat mencicipinya.

Itulah yang membuat saya percaya bahwa ruang bisa menemukan kita dengan makna-makna yang baru. Ruang bisa membiarkan kita berbicara tentang sesuatu yang tidak ada dan kemudian mengadakannya. Ruang adalah pembentukan makna. Dan, saya telah memilih ruang saya.


Apalah relasi antara ruang dan makna.

Komentar