Pejuang #1

Mas, apakah kamu pernah menilai segala apa yang kau lakukan merupakan bagian dari perjuangan? Banyak orang tahu, juga istrimu yang tak lagi lugu, bahwa kamu menolak segala bentuk perlakuan yang tidak memanusiakan manusia, bahkan jika itu tidak terjadi kepada dirimu. Tapi, apakah benar setiap bangun pagi, kau akan berkata: "Hari ini, aku akan berjuang!"

Saya melihat guratan urat di lehermu ketika kau berteriak lantang. Kamu seperti orang marah, Mas. Atau, kau mungkin memang sangat marah. Kemarahan itu membuatmu mengakrabi segala tantangan. Tak ada yang jadi penghadang. Tapi, mereka juga tak segan untuk membuatmu hilang.

Inginkah kau melepas keluarga dengan ucapan selamat tinggal yang layak, Mas? Kata-kata yang memang disadari akan diberikan untuk terakhir kalinya, bukan sekadar perpisahan ala Jakarta-Den Haag. Tidak diragukan bahwa apa yang kau lakukan memang diperlukan. Tapi, apakah itu perjuangan, Mas, sejak semula?

Atau, itu menjadi perjuangan ketika baramu tak mati-mati, pun kau sudah dibuang entah di laut mana? Apakah itu menjadi perjuangan ketika namamu terus dielukan tanpa pernah berkuasa atas kehilanganmu yang menjadi kasus tak terurus? Apakah ini disebut perjuangan ketika benih-benih yang kau tebar memang serupa benalu yang menjalar di tembok kekuasaan, seperti yang sahabatmu elu-elukan?

Mas, apakah untuk menjadi pejuang harus dimulai dari pejuang? Bukankah semua orang adalah pejuang dari hidupnya masing-masing? Mas, apakah sejak jadi pejuang, hidupmu menjadi tenang di sana, sedangkan yang ditinggal terus gusar berulang?

Sekarang, banyak pejuang, Mas. Tidak harus teriak menggelora. Juga tak mesti namanya muncul di harian pagi. Bahkan, mungkin kehadirannya tak dianggap pasti. Tapi, ia terang pejuang. Bisa jadi, dia terbakar dengan apa yang kau tinggalkan, bukan untuk orang lain, tapi untuk mempertanyakan kenyamanan hidupnya sendiri.

Den Haag, 7 September 2015
Selamat siang, Munir.

Komentar