research is a guilt?

“Kalau kamu tertarik, saya mau mengajukan kamu menjadi salah satu dari 4 kandidat yang akan diberangkatkan ke Hong Kong, walaupun nantinya akan diseleksi kembali menjadi 2 orang saja. Sebelum berangkat, kamu akan dipertemukan dengan 5 orang tuna rungu di Indonesia untuk belajar bahasa isyarat sebagai bekal. Di Hong Kong, kamu akan diberi pendidikan S2 dan biayanya sudah ditanggung. Kemudian, kamu juga akan bekerja dan akan diberikan biaya pula. Sepulangnya, kamu bersama 5 orang tuna rungu tersebut harus membuat penelitian di pusat penelitian UI untuk membuat kamus bahasa isyarat bahasa Indonesia. Kalau memang maish tertarik, saya akan memberikan e-mail kamu kepada Profesor di Hong Kong supaya bisa menghubungi kamu langsung.” Pak Umar selesai menjelaskan via telepon siang itu.

Ini berita besar buat gua dan gua cuman bisa duduk terdiam di pantry kantor. Akhirnya, ada konfirmasi ulang dari Hong Kong. Gua simpen cerita ini buat orang-orang spesial.

Tapi, pas gua sampein. Mereka, kok, biasa aja, ya? Yah, mungkin ini juga mau gua. Tanggapan biasa dari berita ‘biasa’. Toh, ini bukan suatu kepastian, cuman satu langkah lebih maju, tapi masih berupa harapan.

Cuma segelintir orang yang bisa menghargai peneliti. Cuma itungan jari jumlah orang yang nganggep neliti nggak ngebosenin. Cuma orang-orang tertentu yang bisa bangga ama status peneliti yang deket ama image nggak ngehasilin duit banyak. Dan, orang-orang spesial itu gak ada di sana. Dan, gua sendirian ngerasain kebahagiaan ini—yang akhirnya jadi air mata juga, sih. At least, I know what I want. And what I want is not always what you want, guys.

Komentar