Berontak atau Setuju


Ketika kehidupan hanya soal bertahan, saya memuja Lesya. Hidupnya hampir tak pernah lepas dari kemuraman, tapi ia berhasil untuk melihat titik-titik kecil kebenaran yang dapat dinikmati. Meskipun demikian, ia tidak pernah merasa rodanya melulu berputar di bawah. Tidak selalu percaya bahwa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Ia memperjuangkan bahwa hidup bukan hanya soal berontak atau setuju, tetapi justru proses pemahaman di antaranya.
Tak semudah siang-malam, memang. Paham itu butuh kesadaran. Layaknya tidur yang bukan sekadar memejamkan mata, tetapi juga kehilangan kesadaran sekaligus menemukan dunia kesadaran baru dalam mimpi.
Saya belajar tenang dari Lesya—setidaknya saya mencoba untuk belajar tenang. Tanpa dipandang orang, Lesya telah meninggalkan kenangan pada orang-orang tertentu yang menyelami tiap ungkapan hatinya.

Komentar