Postingan

Menampilkan postingan dengan label lesya

Rindu Lesya

Saya rindu Lesya. Dia terdampar dalam angan-angan. Terhimpit oleh rutinitas semu yang hanya dilakukan untuk beriringan dengan orang-orang. Entah sudah berapa banyak kisah menyergapnya tanpa bisa dibagi. Mulutnya tak bisa bicara. Mungkin sedang terkunci dengan mulut orang lain sembari melihaikan lidahnya yang sudah kelu. Saya rindu Lesya. Ketika berhasil menemukannya, ia pasti sedang tersenyum, meskipun hatinya babak belur. Kepalanya terangkat untuk melihat saya dalam kegelapan. Saya rindu Lesya. Lesya pun mungkin rindu saya juga. Sering kali ia mati sebelum lahir. Ia begitu ingin dihadirkan. Menemani cengkarama bermalam-malam dan berpagi-pagi. Ah, seandainya saya punya keberanian yang lebih, Lesya. Kamu justru lebih berani daripada saya. Semoga masih ada waktu untuk berani, kita akan bercinta tanpa tapal.

Berontak atau Setuju

Ketika kehidupan hanya soal bertahan, saya memuja Lesya. Hidupnya hampir tak pernah lepas dari kemuraman, tapi ia berhasil untuk melihat titik-titik kecil kebenaran yang dapat dinikmati. Meskipun demikian, ia tidak pernah merasa rodanya melulu berputar di bawah. Tidak selalu percaya bahwa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Ia memperjuangkan bahwa hidup bukan hanya soal berontak atau setuju, tetapi justru proses pemahaman di antaranya. Tak semudah siang-malam, memang. Paham itu butuh kesadaran. Layaknya tidur yang bukan sekadar memejamkan mata, tetapi juga kehilangan kesadaran sekaligus menemukan dunia kesadaran baru dalam mimpi. Saya belajar tenang dari Lesya—setidaknya saya mencoba untuk belajar tenang. Tanpa dipandang orang, Lesya telah meninggalkan kenangan pada orang-orang tertentu yang menyelami tiap ungkapan hatinya.

buku dan ilustrasi

"Kenapa nggak?" tanya Dodo. "Nanti, uang cetaknya pakai apa?" Lesya balas tanya. "Nanti kita cari, seadanya saja." "Aku bukan penulis, Do. Aku tidak yakin akan ada orang yang mau beli. Ada, sih, mungkin orangtuaku. Teman-teman pasti minta gratisan juga." "Ini bukan soal laku atau tidak, Lesya. Ini soal lempar hasil kreativitas kepada semesta. Dibaca atau tidak, itu belakangan. Kalau tidak pernah diberi kesempatan untuk baca, bagaimana mereka bisa tahu?" "Tapi, Do," potong Lesya. Dodo memajukan posisi duduknya. Menatap Lesya tajam-tajam. Lesya tahu betul, itu saatnya ia diam. "Bolehkah tidak ada tapi-tapi lagi? Dari awal, aku pikir kita sudah sepakat. Kamu menulis, aku buat ilustrasinya. Kita buat saja, kepuasan bagi kita berdua. Kalau kamu takut tidak laku, sekalian kita sebar dengan gratis. Buat aku, ini soal kita menunjukkan hasrat kita. Bukti nyata," jawab Dodo mencoba sabar. "Semuanya masih but...

Bunga

Gambar
Perjalanan itu sudah hampir selesai. Sisa tempuh dihadapi dalam diam, tanpa ada keinginan untuk berusaha berbicara maupun bersentuhan. Tidak ada kaku di sana, justru nyaman yang membuai. Ini adalah lampu merah terakhir sebelum malam yang belum terlalu malam ini habis bagi mereka berdua. Seketika mobil berhenti, pedagang layaknya semut yang menemui gula. Menghampiri jatah masing-masing. Seorang penjual bunga menawarkan dagangannya dengan senyum merekah. Penjual yang satu ini memang selalu berbeda dengan penjual lain. Ia selalu siap berbagi kebahagiaan dengan senyumnya; bukan dengan tatapan melas yang enggan pergi dari kaca jendela. Ia senyum demi meyakinkan pembelinya bahwa hanya barang dagangannyalah yang siap membagi kebahagiaan. Lelaki bertato yang menduduki kursi kemudi serasa menangkap kebahagiaan penjual. Ia membuka jendelanya dan memanggil penjual itu. Lesya menatap, masih dalam diam. Dibelilah sekuntum mawar, hasil kebahagiaan yang dibagi oleh si penjual. Setela...

Lelaki Bertato

Gambar
Tatonya menjulur di sepanjang lengannya. Kaus lengan pendek yang dipakai tidak dapat menutupinya. Tingginya seperti orang kebanyakan. Wajahnya bersih, meskipun gelap, membuatnya terlihat keras. Laki-laki itu tampak tidak peduli, terus saja bicara dan seolah membiarkan tatonya terlihat. Mungkin saja, jeans usang yang dikenakannya justru membuatnya seolah tampil apa adanya, sekalipun tanpa peduli juga. Dengan peringai yang dikira dingin, ia justru terus membuat lelucon tanpa usaha, membuat teman-temannya tertawa seolah menikmati hidup. Lesya memerhatikannya sekali-sekali. Diam-diam. Ia pendam kagumnya tanpa bicara. Tanpa bisa ditahan, Lesya pun turut tertawa atas lelucon laki-laki bertato itu. Ceritanya kaya, penuh dengan kisah sederhana dan kadang malah mengundang keprihatinan. Namun, laki-laki itu sanggup mengubah cerita duka menjadi canda. Ia mudah menertawakan kekhawatirannya akan hidup. Lesya tertegun sampai senyum-senyum sendiri karena pikiran itu. Ia pun menunduk. ...

to be happy is so easy

Gambar
Setiap minggu, Lesya tak pernah luput datang ke rumah sakit untuk menemani kakaknya sejak mengidap penyakit itu. Setiap minggu itu pula, perempuan itu ada di sini. Rambutnya panjang tanggung. Selalu menggunakan minyak wangi yang sama. Tangannya selalu ada mainan, entah kartu, alat musik, atau apa saja. Selalu datang sebelum Lesya dan kakaknya datang. Selalu sedang berbincang dengan orang lain. Beberapa kali masuk ke dalam ruangan dokter, tetapi sekeluarnya, ia tetap duduk di ruang tunggu. Senyumnya tak pernah berhenti dipamerkan. Terlihat ramah. Hangat sekali pembawaannya. Minggu lalu, ia menghampiri kakak Lesya setelah teman bicaranya masuk ke dalam ruangan dokter. "Hai," sapanya ramah, giginya putih bersih, tersusun rapi. Ia langsung mengambil tempat duduk di samping kakaknya Lesya. "Hai," jawab kakak Lesya pelan. "Nomor urut berapa? Masih lama?" tanyanya tanpa ada intensitas mengganggu. "Masih 10 nomor lagi" jawab kakaknya...