Bunga



Perjalanan itu sudah hampir selesai. Sisa tempuh dihadapi dalam diam, tanpa ada keinginan untuk berusaha berbicara maupun bersentuhan. Tidak ada kaku di sana, justru nyaman yang membuai. Ini adalah lampu merah terakhir sebelum malam yang belum terlalu malam ini habis bagi mereka berdua.
Seketika mobil berhenti, pedagang layaknya semut yang menemui gula. Menghampiri jatah masing-masing. Seorang penjual bunga menawarkan dagangannya dengan senyum merekah. Penjual yang satu ini memang selalu berbeda dengan penjual lain. Ia selalu siap berbagi kebahagiaan dengan senyumnya; bukan dengan tatapan melas yang enggan pergi dari kaca jendela. Ia senyum demi meyakinkan pembelinya bahwa hanya barang dagangannyalah yang siap membagi kebahagiaan.
Lelaki bertato yang menduduki kursi kemudi serasa menangkap kebahagiaan penjual. Ia membuka jendelanya dan memanggil penjual itu. Lesya menatap, masih dalam diam. Dibelilah sekuntum mawar, hasil kebahagiaan yang dibagi oleh si penjual.
Setelah kaca tertutup rapat, lelaki bertato itu mengulurkan bunganya dengan pandangan tetap lurus ke depan.
“Aku kasih bunga ini bukan khusus untuk kamu. Aku cuma senang dengan penjual tadi, seperti melakukan sesuatu dengan ikhlas, tanpa memaksa, dan tanpa beban hidup. Kebetulan saja, dia jual bunga. Kalau dia jual kacang, aku juga akan beli kacang itu,” jelas lelaki itu seolah memberikan pembenaran tanpa pertanyaan atas bunga yang baru saja dibeli.
Lesya tersenyum bukan main. Ia mencoba meresapi harum bunga. Entah mengapa ia melakukan itu, mungkin saja ia hanya mengikuti orang-orang dalam film yang selalu melakukan itu ketika menerima bunga.
“Terima kasih, ya,” senyumnya masih tak sanggup disembunyikan.
“Bilang terima kasih sama penjualnya, “ jawab lelaki bertato itu sambil sedikit tertawa.

*gambar diambil dari http://weheartit.com/entry/21173770

Komentar