Berani Mati

"Kamu akan mati penasaran,"
ia menjatuhkan belakangnya ke punggung kursi
Aku melakukannya juga 
Diikuti pandanganku ke matanya
"Mungkin juga mati karena menyesal,"
aku mengungkapkan ketakutanku

Dia tidak tersenyum mendengarnya
Malah melempar lihat ke atas
Tidak ada apa-apa di sana
"Toh, belum ada orang mati karena rindu,"
jemari kedua tangannya saling menangkap di depan dadanya yang bidang
Sikunya diistirahatkan di tangan kursi

Aku mengangkat kakiku ke paha kursi
"Kita ini terlalu mengada-ada.
Bicara tentang sesuatu yang tidak ada,"
mataku masih melekat kepadanya
Mencari sesuatu yang belum tentu ada
Ia menangkap tatapanku
Turut melekat
"Menjadi ada karena kita kerap membicarakannya."

"Pun memang ada, apakah kita percaya?"
tubuhku kucondongkan ke depan
Kakiku turun dari paha kursi
Takut salah tingkah, kutarik cangkir depan mata
Memegang cangkirnya sembari menunggu
Aku juga tak menunggu jawabnya padahal

"Percaya bermula dari ragu.
Kita sering payah akan ragu."
Ia tak mengubah posisinya 
"Apakah percaya seraya nasibnya Chairil?"
Kutunggu benar jawabnya kali ini
Masih melekatkan matanya kepadaku
"Iya, kesunyian masing-masing."

Dan, Chairil mati bukan karena sunyi
Siapa tahu justru karena berani
Apakah itu berani mati? 

"Tuhan dan cinta memang tak ada bedanya."
Entah siapa yang mengucap.

Komentar