Pesan yang Tertinggal

Apakah bayangan kematian memang sedekat ini? Baiklah. Jika memang bisa memilih, saya memilih mati sekarang. Bukan nanti, bukan besok, apalagi kapan-kapan. Saya mau mati sekarang.

Ini bukan perkara kalah taruhan dengan kehidupan. Juga bukan kekecewaan berlebihan yang terpendam. Juga bukan dalam keadaan terbahagia hingga siap menghadapi kematian. Ini hanya keadaan wajar dan biasa-biasa saja. Tidak semua keputusan besar dalam hidup diambil dalam keadaan paling; paling mendesak misalnya. 

Toh, keinginan juga tidak serta-merta dengan kesiapan. Padahal untuk mati, entah apa yang perlu disiapkan. Rasanya mati tinggal mati saja. 

Jika saya nyaris mati malam ini, mohon biarkan saja. Biarkan saya mati dalam tidur. Boleh pakai mimpi, boleh tidur saha. Saya tidak akan menggentayangi siapapun, apalagi kirim-kirim nomor untuk diadu. Juga tidak ada ucapan selamat tinggal karena itu hanya menunda kematian saya. 

Kalau kematian saya masih nanti-nanti, wah itu lain cerita. Sebenarnya kematian itu begitu fana. Karena kehadiran saya, juga Anda, adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kematian juga tidak bisa dipisahkan dari bagian itu sendiri. Persis seperti fisikawan bilang tentang loop quantum gravity. 

Jadi, kalau saya memang mati sebentar lagi, tanpa izin siapa-siapa, lupakan saja untuk mengirim pesan kepada saya. Jangan biarkan ada pesan yang tertinggal. Saya mau mati dalam keadaan seperti ini.

Komentar