Sejadi-jadinya


Aku ingin pulang.

Mengetuk pintu dengan lunglai yang tak diada-ada; dengan gemetar yang tak berhenti sejak semula perjalanan. Melangkah gontai masuk ke dalam dengan lingkaran hitam di mata yang tak memudar-mudar. Menubruk ibu dan ayah dengan pelukan atas pemintaan untuk diselamatkan. Kemudian, menangis tanpa suara. Begitu lirih. Terisak sampai sesak dalam lingkar dada. Sejadi-jadinya.

Hingga ibu dan ayah tak sanggup berkata-kata. Membalas pelukan sambil mengusap-usap punggung dengan perlahan. Berharap itu bisa menenangkan anaknya. “Ya, Gusti, apa yang sedang Kau ajarkan?” batin mereka dalam hati.

Ibu dan ayah tak sibuk bertanya. Tak jua ingin menjadi pahlawan yang dapat menjawab banyak pertanyaan anaknya. Ibu dan ayah begitu paham bahwa anaknya tiba jua pada satu hari yang tidak diharapkan tapi pasti akan datang, kesedihan yang begitu mendalam. Menderu-deru tak karuan.

Aku ingin pulang. Sebagai aku.

Aku begitu menginginkan pulang.

Tanpa meninggalkan khawatir dan menanggalkan kepercayaan. Bahwa kekejaman hidup tak lantas pantas dibawa pulang, apalagi dalam dekapan, kita sudah sepakat. Kepiluan bukan hanya milik ibu dan ayah, tapi juga anak. Jika memang pura-pura sama-sama bisa menyelamatkan kita, apa yang tak pantas untuk dicoba?

Komentar