Sumba, tempat rinduku memanggil


Waktu dengar kabar akan ditugaskan untuk pergi ke Sumba selama seminggu, saya sama sekali tidak percaya. Bagaimana bisa di tengah kedatangan berita buruk yang bertubi-tubi, ada satu kabar baik yang datang begitu cepat? Awalnya, saya pikir itu hanyalah harapan untuk menenangkan bulan kelabu. Makanya, saya tidak ambil hati. Belum merasa sanggup lagi untuk terima kekecewaan.

Namun, tadi malam, saya memegang tiket pesawat pulang-pergi. Bagaimana bisa kebahagiaan terasa begitu nyata padahal belum terjadi? Saya segera pulang malam itu. Sesampainya, saya bingung harus bagaimana. Terasa jadi salah tingkah menerima kabar baik. Saya malah menangis. Saking bahagianya.

Terima kasih. Entah saya harus mengucapkan itu kepada siapa. 

*Saya menemukan tulisan ini yang sudah tersimpan sejak 23 Maret 2012.

Komentar