Pelancong #1

Apakah saya sudah pernah bilang bahwa saya ini bukan pelancong? Pun demikian, saya suka saja menjadikan tempat saya sebagai tempat kediaman para pelancong. Mereka bisa beristirahat, bahkan bermalam, setelah perjalanan jauh. Kemudian, mereka dapat melanjutkan perjalanan jauh lainnya. Namanya juga pelancong; seringnya tak menetap lama. Pun lama, pada akhirnya, mereka akan pergi juga.

Memang, kepergian mereka tak selalu akan beperjalanan lagi. Ada juga pelancong yang memutuskan pulang setelah mampir di pondok saya. Setidaknya, mereka sempat menceritakan perjalanannya kepada saya.

Ketika berada di tempat saya, sebagian pelancong hanya duduk di beranda, minum teh panas dan berkisah sedikit. Tak sempat bermalam, di tengah percakapan, mereka berhasil menemukan tempat lain yang lebih nyaman untuk menghabiskan waktu lebih lama. Biasanya, mereka hanya singgah untuk menunggu ajakan atau jawaban dari teman lama atau teman baru yang rawan penolakan.

Selain itu, ada pula pula yang berlama-lama di pondok saya. Biasanya bukan karena betah, semata-mata hanya belum tahu akan ke mana saja sekeluarnya. Kepada mereka, saya tak pernah ambil pusing, senang juga selalu ditemani. Dengar kisah luar biasa yang selalu berbeda. Apalagi kisah kemenangan atas perjuangan yang tak mudah.

Ke mana pun sekeluarnya, satu-satunya kesamaan dari mereka semua adalah mereka akan pergi. Cepat atau lambat. Biasanya, mereka akan pamit, menunggu saya pulang. Saya akan melihat mereka dengan tas yang sudah rapi dikemas. Atau, ada juga pelancong yang sebelum berangkat meninggalkan pesan di meja, tak sempat menemui saya yang masih asyik dengan hidup saya sendiri di luar pondok. Jangan salah, meskipun tak banyak, ada pula yang tidak menunggu atau meninggalkan pesan. Lenyap begitu saja. Saya juga tak pernah hirau dengan sopan-santun. Toh, keinginan pergi kadang juga tak perlu, bahkan tak bisa, dielakkan. Mungkin juga karena saya tahu bahwa pondok saya bukan tujuan. Mereka yang singgah akan pergi.

Dan, kalau sudah pergi, saya tak pernah merasa perlu untuk mencarinya. Pun kisah mereka begitu mencandukan, pun tingkah mereka sering terindukan, tapi buat apa? Tempat saya memang hanya pondok, tempat orang datang dan pergi; bisa juga datang untuk pergi. Hilangnya hilang. 

Sementara itu, pada sela-sela percakapan di beranda depan, tak sekali-sekali mereka mengajak saya melancong atau meminta saya untuk mencoba melancong. Namun, pondok saya bagaimana? Kasihan para pelancong lain yang sedang kelimpungan cari tempat. Saya memilih diam di pondok agar mudah ditemukan. 

Oh iya, apakah saya sudah pernah bilang bahwa saya ini bukan pelancong? 

Komentar