Seberapa Takut akan Kesendirian?

Twitter. Facebook. Path. Instagram. Whatsapp. Yahoo Messanger. Gtalk. SMS. Setidaknya, ada delapan aplikasi yang selalu saya buka setiap hari. Tidak jarang pula, saya periksa sepersekian jam--bahkan kadang sekian menit, apalagi kalau ada notifikasi. Tiba-tiba, ada kebutuhan untuk membukanya, melihat kejadian di dalamnya, dan menjawab atau memulai percakapan dengan siapa pun di mana pun.

Hari ini, saya tersedak. Saya seperti orang gila yang terkikis jiwanya. Banyak hal dijadikan pertimbangan dan sayangnya hal itu dalam bentuk digital; semu. Saya merasa terganggu dengan gangguan yang dulunya saya nikmati.

Sebut saja saya tidak siap dengan kemajuan teknologi. Atau, semata-mata kenyataan sedang menyibukkan saya hingga mempertanyakan kembali dunia digital yang kerap saya geluti.

Saya terpancing dengan kegiatan orang-orang yang sedang menunggu. Ponsel ada dalam genggamannya. Matanya menunduk. Kepekaannya terserap dengan apa yang ada di hadapannya: layar.

Dulu, hanya layar televisi dan bioskop yang seolah sanggup menyihir penonton untuk masuk ke dalamnya. Sekarang, layar itu ada di dalam kantong. Maaf, pasti tidak di kantong karena susah melihatnya; setidaknya, ada di selayangan pandangan. Sekali tersapu, terlihat sudah apa yang muncul di layar. Pun, tidak ada apa-apa, suka merasa ada kebutuhan untuk melihat apa yang tidak terlihat.

Hal tersebut membuat kita--setidaknya saya--mudah untuk teralihkan. Konsentrasi seringnya menjadi pudar. Pengalihan menjadi begitu mudah. Sayangnya, pengalihan justru cenderung menjadi tolak ukur sekarang. Jadi, seberapa sering saya menjadikan orang lain sebagai pengalihan? Sebaliknya, seberapa sering orang lain menjadikan saya sebagai pengalihan?

Pertemuan menjadi barang yang semakin langka alih-alih tak ada waktu. Sementara itu, foto dan status merajalela tak tentu arah. Orang-orang bicara tanpa ditujukan. Kemungkinan kawan bicara diperluas. Tatap-menatap menjadi suatu kejadian yang begitu menakutkan. Mata berlari ketika bersaling muka. Di mana nyaman terletak kini? Kalau hal yang semu bisa dikatakan nyaman, di mana konkret diletak?

Kemudian, percayalah kita--setidaknya saya--terhadap suatu batas antah-berantah. Tak ada sapaan dalam dunia digital dianggap sebagai penolakan. Tak ada komentar dalam dunia digital dianggap sebagai ketidakpedulian. Iya, itu memang cara paling mudah. Namun, bukankah itu sama juga merelakan diri sebagai pengalihan? Sebegitu pentingnyakah kita--lagi-lagi setidaknya saya--ingin dijadikan pengalihan?

Seorang teman dekat pun pernah mengatakan bahwa kecanggihan ini mempermudah banyak hal. Tidak membuang-buang waktu untuk remeh-temeh yang sudah bisa dimulai melalui dunia digital. Penggalian informasi bisa dijadikan modal awal untuk percakapan panjang. Saya setuju. Namun, seberapa bisa remeh-temeh itu dilakukan tanpa mengalihkan dari sesuatu yang memang ada di depan mata? Kemudian, ketika pengalihan mulai berkembang sebagai konsentrasi, itu pun menjadi hal menakutkan lainnya. Semacam, "Hei, tunggu dulu, wilayah kita hanya sebagai pengalihan. Kenapa tiba-tiba menjadi fokus? Huaaa, itu menyeramkan."

Batas pun memang diperlukan. Ketidakhadiran dalam dunia digital bukan menandakan banyak hal, apalagi dijadikan tolak ukur atas banyak hal yang sebenarnya tidak bisa diukur, seperti kepedulian. Begitu mudah orang peduli dan lupa pada saat yang singkat. Memang, singkat pun tak menandakan ketakberartian.

Saya bisa bilang apa-apa di dunia digital itu, tetapi kehidupan saya siapa yang tahu? Tidak juga mereka yang berada di lingkungan terdekat. Kepercayaan memudar. Garis lingkaran lingkungan tidak "aman" meluas.

Dan, ketika tersedak, saya ingin minum. Minuman pertemuan. 

Oh ya, ada lagi yang lebih menyeramkan. Jangan-jangan, pertemuan sekarang hanya dianggap sebagai pengalihan. Untuk mengalihkan perhatian dari penungguan sapaan atau balasan dalam dunia digital, dilaksanakanlah pertemuan yang malah menjadi membosankan. Setidaknya, sanggup mengalihkan perhatian dari dunia semu. Mana semu mana konkret kalau begitu? 

Komentar

Posting Komentar