Postingan

Sallaca Zallaca: Lagu Imajinasi Nongkrong

Saya sudah pernah menulis tentang Zeke sebelumnya. Namun, kali ini, saya membahas tentang lagunya, tepatnya lirik lagunya. Oh, saya jatuh cinta dengan album pertamanya. Album keduanya “Fell In Love with the Wrong Planet” memang memukau saya saat dikonserkan. Namun, belakangan, saya mendengarkan lagi satu-satu lagunya yang ada di album pertama. Kebetulan, saya baru beli di demajors.  Album Zeke yang pertama cocok sekali buat saya yang sering menyetir sendirian. Awalnya, saya sempat protes karena tidak sanggup memahami lirik secara menyeluruh dalam satu lagu. Saya kehilangan arah untuk memaknai antarkata dalam lirik, padahal saya “anak lirik”. Namun, saya coba bertahan; saya mendengarkannya berulang-ulang. Benar juga apa yang orang lain pernah tulis; tanpa paham lirik, saya mulai bisa meneruskan nada, kemudian kepala goyang-goyang sedikit, lalu tangan mengetuk-ngetuk setir mobil. Akhirnya, saya pasrah; membiarkan diri saya untuk mendengarkan lirik secara terpotong-potong. Apa ha...

you know you have power in you now

Energi. Saya percaya dengan adanya energi dan cara kerjanya dalam kehidupan sehari-hari sedari dulu. Bahkan, banyak sekali hal yang selalu saya kaitkan dengan teori. Banyak orang yang mendengarnya termangu-mangu dan bahkan tak peduli. Namun, baru kali ini saya bertemu dengan beberapa orang yang percaya juga dengan energi ini. Tidak hanya itu, mereka bahkan sanggup untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan main! Saya tercengang dan sibuk menatap sungguh jauh ternyata pemahaman energi saya. Belum beres di sana-sini dan belum sanggup untuk menghadapinya dalam hal-hal kecil.  Kalau kata zeke, “you know you have power in you now”. :)  *tulisan lama dari blog sebelah

Kain Renta

Ini malam sudah di tengah-tengah, menjelang pagi bahkan. Gelap berkawan sudah dengan gulita. Remang-remang, dengan cahaya kuning tak seberapa, lampu di atas meja makan itu menyala. Seseorang duduk di bawahnya, dikelilingi pendaran sinar menguning. Sepi sudah menjadi sunyi, tak henti-henti sedari tadi. Bila makin dekat, makin jelas pula wajahnya menunduk. Beberapa langkah mendekat, tak salah kemudian. Ia sedang menyatukan dua kain renta yang sudah menguning. Entah karena cahaya; entah juga karena usia. Disambungnya perlahan-lahan dengan benang yang dimasukkan dalam jarum. Tangannya bergemetaran, tak mudah melihatnya menusukkan jarum-jarum itu. Kain itu kebasahan. Di tangannya, juga ada setetes air. Ia menangis tanpa suara; tanpa berhenti pula, terus menusuk jarum. Aku bertanya berbisik, takut mengusik sepi. Jawabannya lirih tanpa lupa tersenyum, pun air matanya masih juga mengalir. “Tuk menyatukan, memang butuh tusukan berulang kali yang tak terbayang sakitnya. Tapi, toh, k...

Mengorek Arti

Teman dekat saya pernah bilang, perbedaan dipercaya atau tidak dipedulikan itu terlalu tipis. Pun saya sudah tahu itu sejak lama, kalimat itu mengingatkan saya kembali. Dalam beberapa situasi, paham juga setipis tak berarti. Tapi, apakah arti perlu dikorek sedemikian rupa untuk menjadi ada?

Tenang

Adanya hanya menawarkan ketenangan Tak patut dikatakan hanya Itu sudah lebih dari segala cukup Tanpa keterlaluan Tenang itu ia bungkus manis Tak perlu terlalu rapi Jua tak dibuka untuk ditunjukkan Apalagi diberikan Setiap sua, ia taruh tenang di tengah meja Bukan hanya dalam kalut Tapi juga dalam keceriaan yang hampir membabi buta Ketika kepelikan meraja lela Wajar yang disuguhkan Tamparan realitas menurunkan harapan Ia coba bangkitkan, tapi bukan diterbangkan  Pada sepersekian detik yang tepat Ia melihat kembali tenang di antara Membiarkan suasana tetap berada di tengah, di antara Antara adalah tenang Dan, pada zaman yang serba edan Tenang jadi barang langka yang bukan dikoleksi

Makan Optimisme, Kenyang Semu

Tidak perlu menunggu lima tahun mendatang. Dalam kurun waktu dua minggu, optimisme saya dipertaruhkan sudah. Beberapa pandangan tertanyakan kembali. Baru saja sorenya seorang teman dekat mengirimkan pesan. “Belakangan ini, benar-benar peragu.” Saya balas spontan, “Ragu itu bagus; awal dari yakin. Bahkan, bisa jadi lebih yakin daripada orang yang tidak pernah ragu.” Malamnya, saya teryakinkan akan suatu pernyataan yang hanya saya anggap angin lalu beberapa tempo lalu. Jelas, bukan kabar baik. Saya kira itu lebih mudah ketika sudah dibagi dan dibicarakan dengan orang lain sebelumnya, tetapi ternyata rasa memang tak bisa diprediksi. Menanggapi kekalutan saya, teman dekat saya menyanggupi ketersediaan kupingnya. Tanggapannya? Ia mengatakan bahwa ini adalah cara untuk mengetahui alasan kepercayaan saya atas optimisme yang sebenarnya. Apakah saya percaya karena benar saya percaya? Malam itu juga, saya meyakinkan teman baik saya itu bahwa sa...