Postingan

Penyair #1

Siapa yang sudah bosan dengan pertanyaan yang itu lagi dan itu lagi? Kali lain ada yang bertanya, jawabannya tak jauh berbeda. Ini adalah pencarian akan penyair. Yang bersemayam dalam duka. Ia hidup dari luka. Maka, dipeliharalah perih sehingga tak pernah berkesudahan. Satu lagi nekat bertanya, apa yang bisa ditawarkan dari duka? Jika kelancangan itu terjadi nanti, mohon jangan tinggalkan dia. Bukan luka yang tidak ia kenali. Tak juga rapuh yang jarang menggelitik. Siapa tak butuh lancang? Ceritakan lagi kisah kesukaan anak kecil itu. Syahdan, seorang anak terjatuh berulang kali. Bisa berulang karena ia sempat bangun. Dari mulai tidak tahu cara untuk menekuk lututnya untuk berdiri sampai hapal betul cara berlari dari jatuh. Pun, ia tahu bahwa berjalan berhati-hati sembari melihat bawah juga bisa membuatnya tetap jatuh. Berlari kencang juga tetap jatuh. Orang-orang dari pinggir jalan akan meneriakinya untuk terus berlari kencang. Tapi, itu bukan pilihannya. Ia in...

Pause

Gambar
i am just taking a pause. to realise where i am. to be who i am. to notice the fear. to accept what it is. insecurity is not denied. once said, sleep with your enemy, but it is not the enemy. it is just a friend who takes a seat next to me. can be so charmed, also can be harmed. but, i am just taking a pause.

Ayam dan Kambing #1

Ayam                        :                 Dengar? Apakah kamu dengar itu? Kambing                 :                 Derap langkah kuda? Iya, aku dengar. Ayam                        :                 Bukan. Kambing                 :                 Derap langkah turis yang mengejar tram ? Ayam    ...

Medan Merdeka sampai Sukarjo Wiryopranoto

Dan, Anda berada di balik kemudi, saya di sebelahnya. Kendaraan itu melalui jalan medan merdeka. Mendengarkan lagu yang itu-itu saja. Membicarakan hal yang sudah pernah kita bicarakan. Tertawa akan lelucon yang sudah diulang berkali-kali. Kemudian, di lampu merah depan Museum Gajah, Anda bilang, “Kasihan sekali kamu, anak muda,” tentu dengan wajah sekaligus nada yang dibuat bijaksana. Jelang tiga detik, Anda melanjutkan, “Tapi, tahu kan bahwa ini belum seberapa?” Saya dan Anda menanggapinya dengan gelak tak berkesudahan. Sadar betul bahwa ini layak ditertawakan; kesadaran yang tak bisa dibendung. Anda kemudian melihat ke luar dan bertanya patung apa itu di pinggir jalan harmoni. Saya jawab, “Itu patung Hermes. Cocok buat malam ini. Itu dipercaya membawa keberuntungan. Merasa lebih beruntung?” Tawa saya dan Anda lepas lagi. Saya dan Anda sama-sama tahu bahwa dalam keadaan terpuruk, bisa jadi yang dibutuhkan hanyalah keberuntungan. Pada saat yang sama, saya dan Anda j...

Mohon Ceraikan Saya, Dik

“Mohon ceraikan saya, Dik.” Kawan Bicaranya langsung memberhentikan tawanya, kemudian memasang mata. Tubuhnya dicondongkan ke depan, mungkin tanpa sadar. Tidak ada kelanjutan. Si Pelontar hanya memasang mata kembali, bisa saja dia juga tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan sesudah mengatakan itu. “Maksudnya?” Kawan Bicaranya masih menanti penjelasan lanjutan. “Mohon ceraikan saya, Dik,” kecurigaan saya besar bahwa Si Pelontar tidak tahu kata lanjutannya, maka ia mengulang saja seakan itu lebih jelas dari kalimat pertama. Memang, itu lebih jelas karena menegaskan bahwa yang didengar Kawan Bicara tidak salah. “Kenapa?” bibirnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu yang tak keluar suaranya. Si Pelontar mulai melihat ke arah lain. Merogoh jaket warna hijau tentaranya. Melihat ke bawah seakan ada yang dicari di sebelah sepatu yang biasa digunakan untuk naik gunung. Mengambil sebatang rokok dari kotak yang ada di meja, melihat mata Kawan Bicara, menyeruput kop...