sinar tak tergapai

Meja kayu bundar berukuran kecil di depan. Empat kursi kayu secara terpisah mengelilingi meja itu. Tidak semuanya terisi. Beberapa saja. Biasanya juga begitu. Terisi semua acap kali terlalu sesak. Menghamparlah tetinggian pohon yang masih saja digoyang angin terpelan. Kucari satu titik yang menggoda untuk ditelusuri lebih jauh. Masih itu-itu saja titiknya. Kilapan lampu di atas julangan tinggi. Tatapanku membeku seolah tidak mengacuhkan kelihaian pucuk-pucuk yang sering kali menutupi. Kemudian, pucuk itu membiarkanku melihatnya lagi. Menutupnya kembali. Lebih terang sekejap, redup pada milidetik selanjutnya. Dibiarkan saja aku terpukau oleh kesederhanaan. Justru kompleksitas ada dalam kesederhanaan. Diganggu dengan mesra lagi dengan cahaya kuning yang menyamar menjadi siluet pohon. Berkali-kali. Terus saja begitu. Suatu kerutinan tidak selalu membosankan.

Sedang apa penghuni lainnya? Ah, paling memelukku. Sinar yang tak tergapai lebih mempesona.

Komentar