tutup mulut

Dalam tangan ini, dia berbicara banyak. Mencari perlindungan dari ketakutan sehari-hari yang tak pernah diungkapkan. Tak pernah terkatakan kekhawatiran yang menggebu-gebu. Resah itu datang dari tiap kata yang tertulis dalam papan-papan yang dibawa saat demonstrasi. Laporan-laporan yang tak berjelas sumbernya membawanya pada sesuatu yang melelahkan. Tak ada cara untuk lari dari sistem yang sudah terporak-porandakan. Pidato itu apa isinya? Formalitas atas fungsi yang patut dipertanyakan. Semua sibuk berkata, berteriak, bertangis, dan berdiam. Tapi, siapa yang didengarkan? Berlomba menjadi besar untuk dilihat, belum tentu didengar, apalagi diperhatikan. Tutup mulut, keluhan itu asalnya dari hati. Ditumpahkan melalui anggapan ketiadaan yang dianggap maha pada saat kesadaran tiba. Menunggu kesadaran tak ada gunanya.

Komentar