geram

Sepulang dari kantor, dalam perjalanan, kuperhatikan sekelompok anak berseragam putih abu-abu yang sedang duduk-duduk. Beragam sekali ekspresi mereka siang itu. Adikku, nanti, semua yang terjadi pada saat ini akan sangat berarti pada hari nanti. Ah, aku terlalu kedewasa-dewasaan. Sama saja dengan orang-orang yang belagak dewasa. Beri pesan ini-itu yang akan dijawab dengan pergi.

Aku jadi ingat betul ekspresimu siang itu ketika kita masih sama-sama berputih abu-abu. Kau datang dengan geram. Tak pernah kulihat kau seperti itu. Peluh keluar dari dahimu. matamu begitu berbicara tentang kekejaman. Tanganmu terus mengepal menahan apa yang berusaha membludak dari dalam. Tak berapa lama, kau menghilang. Lama sekali.

Sekembalinya kau, sungguh perubahan besar terjadi pada dirimu. Banyak bentuk yang menyenangkanmu kau tinggalkan. Tanggung jawabmu terkuak setiap saat. Sungguh, kami merasa aman berada di dekatmu. Pelindungmu begitu menghangatkan dan memanjakan kami. Ah, kau sungguh pecinta wanita. Ibumu kau angkat ke langit berikut beserta kaumnya.

Akhirnya aku sampai di tempat tujuan setelah melewati macet hingga bisa memperhatikan anak-anak berputih abu-abu itu. Kutunggu kau barang sepuluh menit yang sedang bersetubuh pula dengan kemacetan kota ini. Kau datang wajah yang jauh berbeda dengan sepuluh tahun lalu. Gayamu sudah necis. Geram itu pun tak tergurat lagi pada setiap lekukan di wajahmu. Kau bakar rokok pertama. Dan, rokok itu adalah rokok terakhir pula yang kulihat malam itu. Setelah hembusan pertama, kau bilang dengan lantang bahwa kau selingkuh.

Argh! Lihatkah geramku? Kepalanku? Peluhku? Maaf, aku tak akan kembali lagi padamu. Aku hanya berjanji akan membopong ibumu ketika terjatuhkan dari langit.

Komentar