sepuluh kain putih

Sepuluh lapis kain putih kau cari di setiap laci yang ada di kamarmu. Bahkan, baju-baju yang ad adi lemari atau bahkan sepreimu kau akalkan juga agar terkumpul genap sepuluh. Awalnya, kau hanya butuh lima, tetapi ternyata belum lengkap menutup. Kau cari dua lagi. Masih terlihat juga dari luar. Sampai akhirnya kau memerlukan sepuluh helai kain. Memang, sepuluh pun bukan berarti tak terlihat dari luar, tapi setidaknya segala bau busuk dan cairan hitam yang keluar sudah bisa tersingkirkan, meskipun tak sepenuhnya.

Peluhmu melantai. Tenagamu habis terkuras. Belum saatnya berhenti di sini, pikirmu. Kau lari keluar. Jalan kaki menuju tempat kami berdua. Tak ingin naik transportasi umum agar tak banyak orang tahu. Tak juga kau jinjing di dalam tas, tapi kau taruh di kedua telapak tanganmu. Kau jaga betul karena tak mau kehilangan sebenarnya.

Bersama peluh tak terhitung dan garis hitam pada bawah kelopakmu, kau sudurkan kepada kami. Tanpa kata-kata. Tanpa air mata. Senyum saja.

"Apa itu?" tanyanya.
"Ambillah. Aku tak sanggup lagi menyimpannya. Rumahku menjadi bau dan banyak lalat di mana-mana. Aku tak bisa terus begini, "jawabmu tanpa mau duduk.
"Apa itu?" tanyaku. Kami tetap tak tahu apa yang ada di gumpalan kain putih yang baunya menyerebak dan hitam-hitam mulai terlihat pada lapisan kain kesepuluh.
"Aku tak boleh kehilangan ini. Tapi, aku tak sanggup lagi menyimpannya. Ketika ini semua sudah berhenti, bolehkah aku ambil lagi? Tapi, mohon sekali, aku sama sekali tidak bisa menghabiskan satu malam lagi dengan ini. Jagalah, jangan ada yang menyentuhnya," jelasmu terlalu cepat hinga salah satu dari kami hampir tak mengerti maksudmu.

Kami ambil dan kau langsung terduduk lunglai. Kami buka perlahan-lahan dan memakan waktu yang cukup lama. Lapis demi lapis. Bau tak sedap apa pun tak kami hiraukan. Racun apa pun yang terkandung dalam cairan hitam itu pun tak kami indahkan. Kami hanya mau kamu tenteram.

Lapisan terakhir ada yang tak sanggup bertahan, air mata.

Kawan, mengapa hatimu kau biarkan sampai seperti ini?

Komentar

  1. wow!!!!! there's no better words to describe it, but this piece!!!

    BalasHapus
  2. scene film yang gue ceritain menambah rasanya, nggak? hahaha...
    pake hati nih yang ini, hehehe

    BalasHapus
  3. bah,, kayaknya tulisan gw terinspirasi ama ini deh -i-, maap beneran ga maksud mencuri ide.. maaf jika ada kesamaan disana sini..

    BalasHapus
  4. nguek.. kok gitu?
    ini semua kan dari perasaan dan imajinasi, ne, bukan berarti perasaan dan imajinasi orang harus beda banget, kan? hohoho...
    mungkin itu pengaruh aquarius, hahaha..
    anyway, saya suka tulisanmu yang itu..

    BalasHapus

Posting Komentar