siapalah itu nanti

aku dan kamu sama-sama ingin menjadi "siapalah itu nanti" yang begitu sering kita ucapkan ketika bercerita tentang berbagai harapan yang dikamuflase dalam kemungkinan. aku dan kamu juga tahu sama tahu bahwa "siapalah itu nanti" tak akan pernah tiba meski sudah seberharap itu akan kedatangannya. "siapalah itu nanti" hanya akan berkelibat sekejap dan akan pergi meninggalkan aku dan kamu yang hanya menanti sementara orang lain siap menggandengnya dengan segala yang hanya ada.

atau, bisa saja, "siapalah itu nanti" memang sudah ada di depan mata--tiba-tiba atau dengan segala upaya agar bisa demikian--dan pada saat itulah, aku dan kamu sudah mulai bosan dengan "siapalah itu nanti". bahkan, yang lebih menyedihkan, aku dan kamu tidak mengenali sama sekali "siapalah itu nanti" dan kemudian membiarkannya begitu saja duduk di beranda menanti kita keluar. sementara itu, kita di dalam sibuk-sibuk membicarakannya dengan penuh canda. kasihan, dia pasti berharap menjadi "siapalah itu nanti" hingga rela menunggu tanpa ada yang pasti, mungkin bahkan tanpa harapan. padahal, benar adanya bahwa dia memang "siapalah itu nanti". justru, kita masih sibuk menertawakannya dengan kelucuan yang konsepnya menjadi kacau.

pada suatu malam, aku dan kamu akan berpisah jauh entah apa alasannya. dan, pada malam-malam sendiri--pun ada orang lain di sebelah terbaring manis, aku dan kamu sama-sama merasakan "siapalah itu nanti" ketika hampir terpejam. "siapalah itu nanti" akan tertawa tipis di sebelah kuping kita seperti hari-hari kita bertukar canda. kemudian, sebelum membuka mata esoknya, ada bayangan "siapalah itu nanti" dengan senyum bangun tidur yang begitu menyerupai aku dan kamu ketika ketiduran berbincang ganda. cahaya yang tembus dari jendela kamar itu akan menyapa halus dan berkata, "siapalah itu nanti" tak akan pernah menjelma dalam ketidaksadaran.


Komentar