Desa Sabar

Aku teringat malam itu, Mas. Ketika aku meletakkan kepalaku di pangkuanmu. Kau elus lembut sembari menata rambutku yang tak begitu panjang. Malam itu milik siapa tak pernah kita pertentangkan. Matamu tak menatap mataku sepanjang malam itu. Kamu menerawang sambil menceritakan riwayat desa itu. Desa yang diperbincangkan banyak orang. Kamu tahu banyak tentang desa itu, Mas. Kamu menceritakannya dengan wajah sedikit nelangsa. Dan, tepat ketika kamu melirik ke arah mataku yang memperhatikanmu, kamu segera antusias menceritakannya. Nelangsa dibungkus deretan kata yang dipercepat.

Desa itu tak setenteram yang diceritakan orang-orang, ternyata. Katamu, kehancuran yang terjadi di desa itu justru membuat perencanaan matang tentang segala. Hanya butuh sabar, ya, Mas? Namun, seberapa banyak orang menjinjing sabar hari begini? Sabarnya pun sering kali berjatuhan karena dibawa dengan tidak hati-hati. Malam itu, kamu tanya, "Kamu sabar ndak, Cahyu?" Siapa yang bisa bilang "tidak" dengan pertanyaan yang disertai tatapan tajam seperti itu?

Jika kamu ingin betul tinggal di sana, kenapa masih berada di luar sini bersamaku dan bersama yang lain-lain? Tak ada bedanya kamu dengan mereka yang hanya mau menunggu sampai semua baik-baik saja dan baru datang meninggali. "Mas, sabar tak pernah dimiliki siapa pun. Ia ada dengan seperangkat pesonanya tanpa menjanjikan apa pun. Aku tak pernah mencari sabar, Mas. Aku mungkin tak mencari apa-apa. Aku hanya ingin membiarkan segalanya. Pergi ketika ingin. Menetap ketika ingin. Datang ketika ingin. Ingin ketika merasa ada panggilan."

Malam tadi, aku mengelus lembut sembari menata rambutnya yang tak begitu panjang. Malam itu milik siapa tak pernah kami pertentangkan. Kami hanya menyayangkan kisah yang tak tepat waktu dan tepat rasa. Sewaktu ia tertidur pulas di pangkuanku, pesanmu masuk. "Cahyu, aku pergi dulu mencari sabar. Kalau ada di sebelahmu, dekaplah. Bisa jadi, ku malah menghampirimu selama ini. Siapa tahu, kita dipertemukan lagi."

Malam tadi, kudekap dia dengan kehangatan, Mas. Kubiarkan kamu dalam dingin malam karena memang begitu maumu. Sabar hanya untuk pendamba. Dan, kita adalah pendamba yang luar biasa. Tak pernah berhenti. Kita hanya bersatu dalam pendambaan. Hilang setelah tak terdamba. Mas, aku tinggal dulu di sini. Sampai ada damba lagi yang terbersit. Tanpa tahu balasanku, kamu masih memahamiku dengan melanjutkan pesan. "Cahyu, kita memang baik-baik saja ketika sedang sama-sama dalam keadaan tidak baik. Sebaik-baiknya akan balik, sebalik-baliknya akan tidak baik. Malam!"

Aku yakin kamu malah berjalan menjauh dari desa itu. Menceritakan kembali kisah runyam desa itu dengan atau tanpa belaian. Aku malah ingin berkunjung ke desa itu. Menemukan kembali pendekar tanpa nama yang sedang menulis di daun lontar dan diperhatikan oleh anak kecil dari ujung pintu.


Komentar