Postingan

Pintu

Gambar
Ia mengetuk pintu. Sekali saja. Meskipun begitu pelan, saya mendengarnya. Saya buka pelan-pelan tanpa tahu siapa yang ada di balik pintu, tapi saya tahu betul itu adalah dia. Benar. Basah kuyup. Meskipun demikian, ia tetap berusaha memberikan senyuman terbaiknya. Saya mempersilakannya untuk masuk. Pakaian kering yang saya punya saya berikan untuknya. Tak bisa mengeringkannya, setidaknya mengurangi rasa dingin yang begitu lekat. Diceritakanlah cerita sedih, tersedih dari yang pernah terdengar. Terlalu sedih sampai tak bisa diberi tanggapan. Terlalu sedih untuk turut meneteskan air mata. Tanpa tanggapan apa-apa, ia juga menceritakan rencananya yang begitu tiba-tiba. Saya mengiyakan saja. Tanpa tunggu kering, ia meninggalkan tempat saya, siap menjalankan rencana tiba-tibanya. Esok paginya, saya mencuci pakaian saya yang kemarin sempat dipakainya. Saya bersihkan noda darah yang sampai sekarang tak pernah bisa hilang. Saya juga masih menyimpan yang tert...

Surat Samudra #4

Kepada Samudra, Kamu ada tanpa hadir. Betapa banyak hal yang terungkap dalam waktu sekejap. Sesungguhnya, saya hanya mau sadar dengan hal yang saya percayai. Sayangnya, saya percaya akan banyak hal sekaligus. Semalam, kamu bilang, itu sama saja dengan tidak percaya apa-apa.  Bukankah keraguan memang merupakan titik awal dari keyakinan yang begitu mendalam? Keraguan pulalah yang mengantarkan kita pada suatu ruang tak terduga, bahkan tak bernama. Tak dikenali siapa pun, kecualinya mereka yang sedang dalam pencariannya. Samudra, apakah pencari itu serta-merta menjadikannya pendamba, penemu, sekaligus perindu? Saya tahu juga bahwa turut menjadikan mereka peragu. Apakah sekaligus perayu? Kerap, kami begitu saling menjajakan kebenaran tanpa ingat bahwa kebenaran tak pernah mengubah bentuknya sesedikit pun. Ada tanpa kekal. Siap diubah oleh mereka dan menjadi satu bentuk baru. Kemudian, kebenaran tetap berpijak sendiri. Orang-orang sibuk mempertanyakannya dan memper...

Pulang

“Yang fana adalah waktu, kita abadi.” – Sapardi Djoko Darmono Sudah dua belas bulan dialami selama hitungan waktu yang dinamakan 2012. Seluruhnya terangkum dalam satu kata bagi saya, yaitu pulang. Ya, saya pulang tahun ini. Tahun ini jauh di luar perkiraan saya dan memang hidup selalu menawarkan sesuatu yang lebih dari perkiraan semata. Jauh lebih luas tanpa serta-merta besar. Bisa saja, kita memberikan kejutan terhadap hidup atau malah justru sebaliknya: hidup mengejutkan kita. Banyak hal yang saya kira bisa dilalui, ternyata tidak bisa. Namun, buat apa bermuram durja akan hal itu? Toh, lebih banyak lagi kejadian dialami, meskipun sebelumnya tak disangka bisa dilalui. Ini adalah penghujung tahun dan semua hal yang tidak semudah itu berhasil terlalui, tak menutup kemungkinan untuk terus terjadi pula pada hitungan tahun selanjutnya. Tahun 2012 mengajak saya berkelana lebih jauh dari biasanya. Hampir sebagian besar di antaranya, saya memilih untuk segera pulan...

Paradoks

Ikhlas menjadi buah bibir di mana-mana. Sering kali dijajakan orang-orang selayaknya barang dagangan andalan. Diumbar-umbar dan diperlakukan sebagai janji kepastian untuk keadaan yang lebih baik. Paradoks. Pada saat yang sama, mereka mengumbar ketidakpastian untuk sesuatu yang tidak mungkin: kepastian. Pada suatu malam, seorang pencari pernah bercerita tentang perjalanannya menemukan keikhlasan. Ikhlas dirasakan betul ketika ia membuang air besar. Sesuatu yang sudah ditahan lama kemudian begitu saja rela dilepaskannya. Tanpa tahu, setelah itu apa yang terjadi. Dan, tanpa resah berlebihan, keinginan untuk membuangnya akan hadir lagi dan lagi. Lagi-lagi, orang kerap bicara tentang sesuatu yang tidak dipahaminya. Merasa menjalankan, mengalami, dan selanjutnya ingin mengajarkan orang lain. Sebut saja: tuhan, cinta, hantu, percaya, termasuk ikhlas. Kemarin, Jakarta dikepung mendung sehari penuh. Tak pernah pasti kapan hujan turun. Suasana berubah muram sekaligus mene...

p e c a h d i l a n g i t

Gambar
semua gelap tanpa kalap. terasa begitu sunyi hingga alap. sepi menyergap untuk membentang rasa sekaligus memusatkan pesona. ruang memencar; tak berkonteks. waktu kehilangan detiknya. satu-satunya kesadaran hanyalah berada. tiap tarikan napas memicu hembusan yang terdengar jelas. begitu dekat. gelap kembali melekat. titik-titik cahaya mendekat. sinar itu dari satu pusat yang pecah. ruahnya menyerpih. beterbangan. semakin lama semakin dekat dan lebih besar. putih itu serpihan dari pecah yang bergerak begitu perlahan. p e l a n disingkap derai. turut meledak. meramaikan gelap yang hanya saat ini.  di sini.   tadi dan nanti berbaur hingga kehilangan makna. semua pelan. sadar ini pelan, tanpa maksud lamban.  meledak. menjadi serpihan cahaya yang pecah. memencar dalam kecepatan paling lambat. *suatu pagi yang dimulai dengan Explosions in the Sky

Jenakalah

Gambar
Setiap kali, tawamu membahana untuk menertawakan kepincangan dunia. Hanya matamu yang kutatap tiap berpapasan. Apakah itu lebam dalam matamu? Tertutup rambut yang beterbangan saat tawa menggelak. Kamu pasti tahu. Aku tak akan menanyakannya. Sudah tahu betul jawabmu, “hidupku tak pernah menderita, segala pedih kusambut dengan jenaka”. Kemudian, kamu akan bilang aku terlalu melebihkan segala yang ada. Jenakalah. Toh, jenaka pun berawal dari duka. Jika luka ingin kau nikmati tanpa berbagi, aku menanti. Kita punya cara masing-masing, begitu kerap kau katakan. Diam-diam, kamu tak pernah tahu. Aku menanti segala nanti. Ketika kamu mengira aku bergerak melonjak, tuturku menggenang tanpa aliran. Kita bersama tanpa berdekatan.

selamat ada*

Gambar
mereka buka mata untuk membedakan warna kamu buka rasa melebur menjadi lebih dari satu segala kosong kamu isi pun menampung segala ruah tak perlu takut untuk mimpi jatuh pun selalu di bawah kemudian, segala jalan terbuka belajar menapak kaki lagi bawah tak pernah dilupa untuk terbang semakin tinggi  *12 Desember 2012