Postingan

debaran

Gerak sandi nyawaku tak terhitung sudah. Berusaha melerai apa yang telah terbelenggu selama hitungan saat. Menyatakan untuk menjadi diri dan mengelabui delusi. Kota ini tumpuan tujuanku kalau terlalu takut untuk menghitung besaran negara. Telah tertatih namun napasnya masih sempat mencerai beraikan angkuh yang tergumpal. Kuasa tak lagi diperdudukkan di singgasana terkemuka. Terlalu lelah menanggung kebebanan. Dibungkam saja tetes pada mata. Dimasukkan kembali melalui pori-pori dan menggerogoti tiap organ yang dilaluinya di dalam. Dijadikan kesatuan kekuatan yang sanggup untuk berbangkit. Tak lama lagi. Ketika lewat tarian, kami bicara. Kata menjadi pisau tertajam yang pernah ada. Potongan gambar kian bermakna dan lebih menggelora. Semayamkan cara lama yang konon telah digenggamnya. Biarlah lakon kami bicara lebih keras. Peran kami mengampuhkan seluruh jawat. Maka, mata kami menancap dalam hati. Jangan tikam kami saudara sesama. Masih banyak masa yang bisa diselamatkan dalam cerita.

ketidaknyamanan dalam kenyamanan

Cita-cita saya hanya satu, yaitu berguna. Berguna bagi orang lain dan berharap bisa menyumbang sesuatu untuk nusa dan bangsa. Beberapa teman saya bilang kalau mimpi saya itu terlalu muluk dan klise. Ada juga teman saya mencemooh saya. Kemudian, satu malam, ada yang bilang kalau saya harus menjadi besar untuk melakukan perubahan. Malam itu, kami berdebat kencang untuk mempertahankan pendapat kami masing-masing. Saya merasa bisa melakukan perubahan meskipun kecil dan dimulai dari diri sendiri. Menurutnya, perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang besar. Cita-cita saya itu membawa saya duduk di sini sekarang. Tempat ini memegang rekor bagi saya, tempat terlama yang saya diami untuk bekerja dan berkarya. Ada beberapa alasan yang saya sadari. Pertama, tempat ini sejalan dengan apa yang saya cita-citakan. Memang, saya jauh sekali dari isu yang diusung tempat ini, bahkan kadang merasa tak sanggup lagi untuk mengejarnya. Akhirnya, terasa tak berguna dan terlantar. Kedua, tempat ini menawarkan ...

impulsif

Keinginan ini menggebu-gebu. Sudah coba ditahan berminggu-minggu, tapi masih sama saja menggebunya. Saya harus beranjak dari sini. Saya tidak tahu akan melangkah ke mana. Bahkan, saya malah menjauhkan diri dari kepastian. Meletakkan diri di area gamang yang keabu-abuan. Saya harus beranjak dari sini. Sungguh, ini bukan masalah pertentangan idealisme, justru saya memperkaya idealisme saya di sini. Bukan pula rasa penolakan di sana-sini. Saya tidak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Memang, mereka bilang begitu caranya. Tapi, tidak semua orang puas dengan jawaban itu. Dan, saya tidak bisa memuaskan mereka. Entah kenapa, saya merasa harus memuaskan mereka. Saya suka melakukan hal lain di sini, tapi bukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan. Saya suka memahami isu di sini, tapi bukan dengan cara seharusnya saya bekerja. Saya nyaman di sini, mungkin bukan seharusnya. Ah! Impulsif! Tak perlu bingung seharusnya, toh minggu depan mereka juga sudah memecat saya.

sembunyikan senyum

Gambar
Di antara lelah yang tak berkesudahan Ia mengendap bersembunyi Mencari lubang untuk menanggalkan senyum sebanyak mungkin sebelum habis Diletakkannya di celah terdalam agar tak diambil orang Ia sisakan saja untuk di penghujung malam Sebelum malam habis, ia kembali ke tempat itu Sibuk mencarinya Tak bisa ditemukan apa yang telah ia simpan diam-diam Di seberang sana, aku menunggu setengah mampus Kupersiapkan seribu umpatan baginya Datang pun ia tergesa-gesa akhirnya Dengan tangan yang dibentuk sedemikian rupa Seolah membawa air yang tak boleh menetes di antara sela jari dan tangan Di situlah ia letakkan senyum yang sudah retak tertindih Sengaja ia simpan dengan maksud baik-baik untukku Malam itu kusisipkan rindu beserta rasa pada kemejanya sebelum ia terlelap

mutualisme

Hari ini seorang teman setengah memaksa minta bertemu pada larut malam. Saya duduk di meja itu sambil memesan kopi. Padahal, sebelumnya, saya sudah berjanji tidak akan meminum kopi lagi karena sudah dua gelas. Namun, jam-jam ini pun harus dilalui bersama kopi. Dengan mata lelah dan badan yang hampir tak bertenaga, saya tunggu dia yang katanya sudah dekat. Sesampainya, temanku itu langsung memesan satu botol bir ukuran kecil. Matanya sembab, tapi justru menunjukkan wataknya yang begitu keras. Keras itu selalu kuartikan sebagai berani, bukan sebagai pemberontak tanpa toleran yang sering kali diinterpretasikan orang. Keras itu kuanggap sebagai kekuatan. Aku sudah memutuskan sejak awal ajakan. Aku hanya bersedia sebagai pendengar. Rasanya, otakku sudah tak sanggup untuk menelaah ceritanya lebih lanjut, apa pun itu. Jadi, kudengarkan saja ia berceloteh. Setelah kurangkum, ternyata dia merasa diperdaya oleh kekasihnya. Dia bilang, tidak terjadi simbiosis mutualisme dalam hubungan mereka. Sal...

mereka benar

Mereka benar. Sudah berkali-kali kusanggah. Bahkan, kurela menepis segala aku dalam diri ini hanya karena tidak rela bahwa mereka benar. Tak segan juga aku bertanya padanya untuk meyakinkan bukan kita yang salah. Tapi, ternyata mereka benar. Bukan karena omongan mereka yang selalu mengganggu keseharian kita. Bukan juga rasa bersalah kita pada rasa sakit hati depan orang-orang. Bukan padamu. Bukan padaku. Salah itu begitu saja menyublim dan tak terekam jejaknya sehingga tidak dapat dikatakan kesalahan. Ini hanyalah sesuatu yang tidak benar, tapi bukan kesalahan. Bukan rasa kita yang pudar, sungguh kita yakin ini besar. Memang, kita tidak tahu ini kurang atau lebih karena perbandingan itu tabu untuk sesuatu yang tidak terukur secara kasat mata. Tapi, ini pun tidak benar. Dan, sekali tidak benar, ketidakbenaran lain pun akan muncul perlahan-lahan. Mereka bilang memori bukan sesuatu yang bisa dipersalahkan. Aku sudah bilang pula, ini bukan sesuatu yang salah, hanya tidak benar. Kuulangi se...

mimpi

Sudah seminggu saya diganggu oleh mimpi yang berlebihan ini. Bahkan, baru saja semalam, saya benar-benar memimpikannya. Ayo, alam, beri saya energi itu!

beasiswanya

"Sayang, aku berangkat, ya. Aku mau ketemu sama Mas Ahmad dan istrinya." "Lho, kok tumben? Ketemu di mana?" "Iya, tadi dia telepon. Belum tahu ketemu di mana. Apa rencana kamu?" "Aku mau pergi sama Bapak-Ibu. Makan malem mungkin." "Bertiga aja? Kakak nggak ikut?" "Kakak masih ada acara di kantornya, mungkin nyusul." Setelah telepon itu ditutup, saya bergegas. Saya tidak sabar untuk menerima surat yang nanti dikasih oleh Mas Ahmad. Mas Ahmad adalah senior saya waktu di kampus. Sekarang, ia bekerja di salah satu lembaga donor internasional. Seminggu yang lalu, saya memberikan abstrak skripsi dan surat motivasi kepada kantor Mas Ahmad. Mereka akan memberikan hibah untuk digunakan sebagai biaya sekolah di negaranya, Australia. Namun, abstrak dan surat motivasi itu bukan punya saya, melainkan punya pacar saya, Ben. Jadi, surat keputusan diterima atau ditolaknya diberikan langsung kepada saya. Sejak pertama kali kenal, Ben mengerahk...
Gambar
Di atas adalah gambar Gala, dewa waktu. Ia selalu ada di atas pintu Angkor Thom, Kamboja. Ada satu hal yang menarik. Sekali makan, ia tidak bisa berhenti. Oleh karena itu, Syiwa memanggilnya untuk menghabiskan makanan. Syiwa mengadakan kontes memasak untuk mencari koki. Jadi, banyak sekali makanan yang tidak bisa dihabiskan. Datanglah Gala—karena diminta Syiwa—untuk menghabiskan semua makanan. Makanan kontes habis, Gala tetap merasa lapar. Akhirnya, Syiwa memberikan semua makanan di istana untuk Gala. Meskipun sudah habis, Gala masih saja lapar. Syiwa sudah tidak punya makanan lagi. Akhirnya, Syiwa meminta Gala untuk memakan tubuhnya sendiri. Gala pun memakan kaki dan badannya. Akhirnya, ada yang mengadu kepada Wisnu. Wisnu membuat Gala berhenti makan. Tersisalah kepala dan tangannya. Syiwa meminta maaf kepada Gala. Atas dasar permohonan maafnya, Syiwa meletakkan Gala di atasnya. Semua harus berjalan di bawah Gala, kecuali Wisnu. Wisnu selalu duduk di atas Gala. Oleh karena itu, simbol...

aku milikmu...

ku berharap abadi dalam hidupku mencintamu bahagia untukku karena kasihku hanya untuk dirimu selamanya kan tetap milikmu Di atas adalah penggalan lirik dari “Ku Ingin Selamanya” ciptaan Ungu. Salah satu teman saya senang sekali ketika seseorang yang ia suka menyayikan lagu ini untuknya. Katanya, ia merasa dicintai oleh orang itu karena liriknya yang ‘aduhai’. Saya coba cari liriknya dan baca ulang, walaupun nadanya lupa-lupa ingat. Kemudian, saya tidak merasa ada sesuatu hal yang bisa membuat saya “meleleh” dari lirik itu. Malahan, lirik itu membuat saya berpikir ulang tentang relasi kebahagiaan dan kepemilikan dalam berhubungan intim. Setelah diperhatikan ulang—sekaligus mengingat-ingat kisah cinta pribadi pada zaman dulu, banyak perempuan maupun laki-laki yang merasa tersanjung ketika ada pernyataan “aku milikmu” atau “kamu milikmu”. Bisa-bisa, pernyataan itu membuat kita jadi mabuk kepayang akan cinta. Padahal, pada saat yang sama, sebenarnya kita secara tidak langsung kehilangan di...