Postingan

Kenal

Hari ini, saya mengajar tentang tahu dan kenal. Kemudian, saya sadar bahwa dua belas bulan terakhir, saya banyak kenal: kenal mimpi, kenal hati, kenal positif, kenal pertemanan, kenal orang, dan kenal diri sendiri. Saya kenal orang-orang yang punya mimpi dan menggunakan hatinya. Dengan begitu, mereka punya energi positif yang begitu besar ketika menceritakan mimpinya. Tentu saja, hal itu berpengaruh pada diri saya. Ketika bicara soal mimpi, pasti bicara juga soal harapan. Pastinya, masih banyak orang yang takut berharap, mungkin juga diri saya sendiri. Namun, harapan sering kali menjadi satu-satunya jalan untuk menemukan jalan keluar. Kenapa kita merasa harus keluar? Keluar cenderung didekatkan dengan arti kepuasan, kelegaan, dan kebebasan. Padahal, sebenarnya, mereka hanya mencari “dalam”, ingin berada di dalam kenyamanan; bukan justru keluar dari wilayah kenyamanannya. Nyaman sering kali justru jadi belenggu untuk kita mengeksplorasi diri kita sendiri. Banyak juga orang yang masih me...

let it go

Laki-laki itu sekarang sudah berkasih dengan perempuan lain. menurut pandangan banyak orang, tentu saja itu menyakitkannya. Namun, saya justru lebih lega. Semua semakin jelas. Tak ada lagi harapan palsu yang harus dicemaskan tiap sekonnya. Membiarkannya berhenti berharap. Tidak dipermainkan lagi oleh harapannya. Penolakan (denial) untuk menenangkan hatinya sudah berhenti.Memang, hatinya pasti hancur, tapi tidak sehancur penantiannya pada harapan palsu, kecemasan berlebihan pada harapan. kadang-kadang, harapan itu memilukan. Namun, harapan juga adalah satu-satunya jalan untuk menghargai diri sendiri. Semakin tinggi menaruh harapan, semakin kita bangga pada diri kita.

Language is Fun!

Tadi pagi, saya mengajar Simona, perempuan asal Italia yang bekerja di Uni Eropa. Dia cantik dan ramah. Saya selalu semangat untuk mengajar dia karena dia sangat menunjukkan semangatnya untuk belajar bahasa Indonesia. Ya, saya harus mengurangi jatah terlambat saya sebelum dia kecewa. I'll do it! Pelajaran hari ini adalah nama-nama hari dalam bahasa Indonesia. Seru banget! Dia cerita kalau nama-nama hari dalam bahasa Italia dihubungkan dengan nama-nama planet. lunedì - Monday martedì - Tuesday mercoledì - Wednesday giovedì - Thursday venerdì - Friday sabato - Saturday domenica - Sunday lunedì diambil dari "luna" yang artinya 'bulan'. martedì diambil dari Mars. mercoledì diambil dari Merkurius. giovedì diambil dari Pluto. venerdì diambil dari Venus. sabato diambil dari Saturnus. Atau, bisa juga mungkin ada kaitannya dengan sabat. Apakah hari sabtu yang disebut dengan hari sabat? domenica diambil dari "dominius" yang artinya 'T...

lantang

Apakah kamu terlalu lantang untuk berada di sini? Memohon sesuatu yang tanpa kau sadari seiringan dengan hal yang paling kau takuti. Seberapa yakin kamu akan berani melompat jauh dari titik kenyamanan. Kau bahkan tak pernah merasa lelah untuk berdiri satu kaki di titik yang sudah meninabobokanmu setiap saat kau ngantuk; hanya pada saat kamu ngantuk. Namun, hari itu kamu memohon bersujud untuk mengubah posisi kenyamanan itu. Cukup yakin atas keberanianmu? Apakah kamu bisa mengatasi segala nyaman yang lebih membabi buta? Atau, bahkan, pada saat yang sama juga menyuguhkan kegagalan yang terngiang-ngiang? Aku berdiri di sini. Siap dihancurkan tak bersisa sekaligus dibuai terlena dalam belaian kenyamanan. Bersiaplah untuk berubah. Dalam diam atau gerak pun, sekeliling sudah berubah mengikuti irama kehidupan. Aku memilih untuk ikut mendendangkannya dan melenggangkan tubuh membuat gerakan perubahannya.

bernarilah mimpi

Kami takut bermimpi. Satu saja alasannya, keberanian itu sudah begitu sering dikecewakan. Sering kali juga kami merasa tak sanggup untuk menenangkannya. Padahal, kami telah disuguhkan sekian banyak contoh bahwa luar biasa hasil dari bermimpi. Melebihi kesanggupan kami dari membayangkan apa yang bisa terjadi. Bukan kami tak mungkin untuk mengelak dari kekecewaan, kegagalan dari apa yang sudah ditinggikan dan dibicarakan terus-menerus. Hukuman sosial dan diri sendiri mendera. Namun, tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain bermimpi. Semua diawali dari mimpi yang berkesungguhan. Biarkan kami bicara tentang omong kosong yang selalu dilecehkan dan dianggap remeh. Biarkan kami bercanda tentang kegagalan yang sudah kami langkahi dengan ribuan peluh. Kami pun akan berkumpul membentuk lingkaran. Menceritakan mimpi kami satu per satu yang belum tercapai, bahkan sebagian masih beranggapan tidak akan tercapai. Namun, kami tidak takut. Kami tidak sangsi sedikit pun. Biarkan kami dihajar oleh kega...

debaran

Gerak sandi nyawaku tak terhitung sudah. Berusaha melerai apa yang telah terbelenggu selama hitungan saat. Menyatakan untuk menjadi diri dan mengelabui delusi. Kota ini tumpuan tujuanku kalau terlalu takut untuk menghitung besaran negara. Telah tertatih namun napasnya masih sempat mencerai beraikan angkuh yang tergumpal. Kuasa tak lagi diperdudukkan di singgasana terkemuka. Terlalu lelah menanggung kebebanan. Dibungkam saja tetes pada mata. Dimasukkan kembali melalui pori-pori dan menggerogoti tiap organ yang dilaluinya di dalam. Dijadikan kesatuan kekuatan yang sanggup untuk berbangkit. Tak lama lagi. Ketika lewat tarian, kami bicara. Kata menjadi pisau tertajam yang pernah ada. Potongan gambar kian bermakna dan lebih menggelora. Semayamkan cara lama yang konon telah digenggamnya. Biarlah lakon kami bicara lebih keras. Peran kami mengampuhkan seluruh jawat. Maka, mata kami menancap dalam hati. Jangan tikam kami saudara sesama. Masih banyak masa yang bisa diselamatkan dalam cerita.

ketidaknyamanan dalam kenyamanan

Cita-cita saya hanya satu, yaitu berguna. Berguna bagi orang lain dan berharap bisa menyumbang sesuatu untuk nusa dan bangsa. Beberapa teman saya bilang kalau mimpi saya itu terlalu muluk dan klise. Ada juga teman saya mencemooh saya. Kemudian, satu malam, ada yang bilang kalau saya harus menjadi besar untuk melakukan perubahan. Malam itu, kami berdebat kencang untuk mempertahankan pendapat kami masing-masing. Saya merasa bisa melakukan perubahan meskipun kecil dan dimulai dari diri sendiri. Menurutnya, perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang besar. Cita-cita saya itu membawa saya duduk di sini sekarang. Tempat ini memegang rekor bagi saya, tempat terlama yang saya diami untuk bekerja dan berkarya. Ada beberapa alasan yang saya sadari. Pertama, tempat ini sejalan dengan apa yang saya cita-citakan. Memang, saya jauh sekali dari isu yang diusung tempat ini, bahkan kadang merasa tak sanggup lagi untuk mengejarnya. Akhirnya, terasa tak berguna dan terlantar. Kedua, tempat ini menawarkan ...

impulsif

Keinginan ini menggebu-gebu. Sudah coba ditahan berminggu-minggu, tapi masih sama saja menggebunya. Saya harus beranjak dari sini. Saya tidak tahu akan melangkah ke mana. Bahkan, saya malah menjauhkan diri dari kepastian. Meletakkan diri di area gamang yang keabu-abuan. Saya harus beranjak dari sini. Sungguh, ini bukan masalah pertentangan idealisme, justru saya memperkaya idealisme saya di sini. Bukan pula rasa penolakan di sana-sini. Saya tidak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Memang, mereka bilang begitu caranya. Tapi, tidak semua orang puas dengan jawaban itu. Dan, saya tidak bisa memuaskan mereka. Entah kenapa, saya merasa harus memuaskan mereka. Saya suka melakukan hal lain di sini, tapi bukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan. Saya suka memahami isu di sini, tapi bukan dengan cara seharusnya saya bekerja. Saya nyaman di sini, mungkin bukan seharusnya. Ah! Impulsif! Tak perlu bingung seharusnya, toh minggu depan mereka juga sudah memecat saya.

sembunyikan senyum

Gambar
Di antara lelah yang tak berkesudahan Ia mengendap bersembunyi Mencari lubang untuk menanggalkan senyum sebanyak mungkin sebelum habis Diletakkannya di celah terdalam agar tak diambil orang Ia sisakan saja untuk di penghujung malam Sebelum malam habis, ia kembali ke tempat itu Sibuk mencarinya Tak bisa ditemukan apa yang telah ia simpan diam-diam Di seberang sana, aku menunggu setengah mampus Kupersiapkan seribu umpatan baginya Datang pun ia tergesa-gesa akhirnya Dengan tangan yang dibentuk sedemikian rupa Seolah membawa air yang tak boleh menetes di antara sela jari dan tangan Di situlah ia letakkan senyum yang sudah retak tertindih Sengaja ia simpan dengan maksud baik-baik untukku Malam itu kusisipkan rindu beserta rasa pada kemejanya sebelum ia terlelap

mutualisme

Hari ini seorang teman setengah memaksa minta bertemu pada larut malam. Saya duduk di meja itu sambil memesan kopi. Padahal, sebelumnya, saya sudah berjanji tidak akan meminum kopi lagi karena sudah dua gelas. Namun, jam-jam ini pun harus dilalui bersama kopi. Dengan mata lelah dan badan yang hampir tak bertenaga, saya tunggu dia yang katanya sudah dekat. Sesampainya, temanku itu langsung memesan satu botol bir ukuran kecil. Matanya sembab, tapi justru menunjukkan wataknya yang begitu keras. Keras itu selalu kuartikan sebagai berani, bukan sebagai pemberontak tanpa toleran yang sering kali diinterpretasikan orang. Keras itu kuanggap sebagai kekuatan. Aku sudah memutuskan sejak awal ajakan. Aku hanya bersedia sebagai pendengar. Rasanya, otakku sudah tak sanggup untuk menelaah ceritanya lebih lanjut, apa pun itu. Jadi, kudengarkan saja ia berceloteh. Setelah kurangkum, ternyata dia merasa diperdaya oleh kekasihnya. Dia bilang, tidak terjadi simbiosis mutualisme dalam hubungan mereka. Sal...