biru

Langit memaparkan warna kesukaannya. Segala macam warna biru ada di sana dan diganggu sedikit-sedikit oleh kumpulan putihnya. Dari biru yang paling tua sampai rentetan warna yang paling muda berjejer rapi di atas sana. Mereka tahu ada yang butuh dihibur dan ditemani sore ini. Sayang saja, keadaan jalanan tidak tahu atau tidak peduli. Banyak mobil berusaha mencari celah atau hanya jalan sepelannya tanpa peduli barisan mobil di belakangnya. Ada satu mobil hitam yang mencuri perhatian. Bergerak cepar, gesit, mencari celah sekecil apapun untuk kesempatan melaju.
Ternyata, dia hanya seorang diri di dalam sana. Wajah cemas dan tertutup sedikit oleh topi hitam. Dia berkilah dari satu lajur ke lajur lainnya. Perjalanan panjang harus dilewati dengan segera, begitu kesan yang terlihat dari cara menyetirnya.

Waktu sudah begitu sempit, hadir hanya seadanya saja. Tapi, niat ini lebih lebar dari waktu. Keinginannya meyakinkan apa yang tidak mungkin. Bertengkar dengan waktu hal yang biasa. Ini bukan masalah menang atau tidak menang. Ini hanyalah masalah rasa, keyakinan untuk pertemuan untuk perjumpaan yang masih lama.
Telepon sudah berkali-kali berbunyi. Setiap kali telepon itu berbunyi, setiap kali itu pula waktu terasa melecehkan kegigihan ini. Sampai tiba saatnya, waktu hampir menginjak garis finish. Ada satu tempat parkir di barisan depan, hanya saja di pintu F. Saat-saat seperti inilah yang menyadarkan adanya kebetulan di mana-mana. Kemudian, kuparkir asal dan segera turun. Lari. Ya, lari,bukan berjalan. Segala macam orang melihat dengan keanehan. Aku kira tak ada waktu untuk memperhatikan mereka. Telepon berbunyi lagi. Kuangkat sambil berlari dan ternyata waktu memperlambat kecepatannya. Aku terus berlari sampai kuperhatikan penanda arah di atas. Pintu E tapi itu di bagian kedatangan. Ah, aku salah lantai. Keluar pintu dan naik tangga secepatnya. Telepon berbunyi dan aku sudah tak sanggup mengeluarkan kalimat apa-apa, hanya “di belakang” dan kututup. Dia menengok. Kami hanya saling tersenyum tanpa ada kata. Mungkin memang tak perlu. Dia menegaskan harus segera beranjak dari situ. Kami berpelukan. Air mata keluar tanpa ijin dan kami membiarkannya. Entah untuk sedih karena perjumpaan lainnya yang akan makan waktu lama, entah untuk senang karena waktu meluangkan sedikit untuk kami, entah untuk keyakinan kalau ini yang kami butuhkan.
Mungkin kami sudah lelah dengan pembuktian. Segala macam pengorbanan tak pernah diuraikan dan dibanggakan. Cukup dalam hati dan hanya sebagai kepuasan pribadi yang tak kunjung habis. Tapi, apa yang terjadi saat itu dan apa yang kurasa setelahnya adalah rasa lain yang sudah lama diasah. Percaya. Kami terkutuk dan nyaman berada di dalamnya.

Saatnya saya berada di sini sendirian. Cukup percaya yang menemani di sana ataupun di sini, di sisi yang paling dekat. Waktunya sudah tiba, bahkan dia mempersilakan kita mempermainkannya terlebih dahulu. Biarlah sakit ini tak usah diperdengarkan. Biarlah ketakutan ini didiamkan dan dijadikan kekuatan. Dan kubiarkan kalian di sana, belajar tentang hidup dan mengawali jejak langkahnya. Maka ada suatu saat yang kita nantikan untuk berjalan beriringan dan menikmati kehidupan ini bersama-sama, walau dalam luka yang kita ubah jadi suka. Percaya? Hanya itu yang kita punya dan sudah beri bukti yang lebih dari nilai.
Terima kasih. 26 Februari 2007, 10:20 pm dan air mata tak minta ijin lagi.

Komentar