lanturan malam

Selamat malam.
Malam ini bulan secara vulgar menunjukkan sinarnya. Awan pun enggan menutupnya dan membiarkannya bersinar begitu saja. Bintang-bintang tak sungkan tampil di atas sana. Langit begitu terang walau ini yang kita sebut dengan malam. Udara bergerak tanpa permisi. Bongkahan awan di atas sana dibawanya berjalan-jalan. Pelan-pelan namun gerakannya terlihat pasti.

Bagaimana dengan gerakmu? Apakah gerakmu sudah pasti? Orang-orang seperti kita mungkin tidak membutuhkan kepastian. Maksudku kepastian tentang apa yang ada di depan sana. Kita hanya butuh penjelasan langkah kita. Bagaimana kita melangkah dan meninggalkan jejak yang indah, itulah yang harus kita tahu. Tapi, apa masih cari tahu tujuan kita? Itu hanyalah bualan lainnya, bukan? Segelintir bualan untuk memadu cumbu.

Awan tak pernah lelah berjalan-jalan berbarengan dengan angin. Dua bentuk yang berbeda berjalan beriringan tanpa ragu. Bahkan, bintang menyambut dengan kerlap-kerlipnya. Apa kalau kita terlalu sama maka kita tidak diperkenankan berjalan beriringan? Apa aturan masih menyisakan tempat untuk si rasa?

Desahan angin pun terdengar dari pinggir sini. Aku sedang duduk di pinggir hidup. Menyelami perjalanan yang belum seberapa tapi sudah membawaku ke pinggir sini. Suaranya terdengar halus ketika menyentuh pucuk-pucuk pohon dan menggoyangkannya. Lihatkah kau gelombang yang dibuat angin pada kolam itu? Berayun pelan seolah menikmati setiap gangguannya. Seolah menikmati gangguannya?

Bukankah gangguan adalah sesuatu yang mengganggu kenyamanan? Bukannya itu kenapa ia disebut dengan gangguan? Apa ada gangguan yang bisa dinikmati?
Kata kau gangguan mudah membuat rindu. Manusia suka diganggu karena ia merasa eksistensinya terusik. Setidaknya itu adalah salah satu tanda eksistensinya.

Udara di dalam sini dingin sekali. Pendingin ruangan tampaknya sudah menyatu dengan alam di luar sana. Kopi ini saja sudah tidak mengeluarkan kepulan asapnya lagi. Ah, aku lebih menikmati kopi panas. Ada kenikmatan tersendiri ketika meniup pelan, menghirup aromanya, dan menyeruput perlahan dengan menahan uap panasnya. Aku juga menikmati lagu-lagu yang terdengar ini. Ada setiap makna pada liriknya dan entah kenapa aku begitu sensitif untuk merasakan tiap katanya. Tiap makna yang membawa rasa. Rasa yang selalu menghadirkan eksistensi orang lain di dalamnya. Rasa yang selalu mengajak kenangan yang sempat disimpan dan dipanggil kembali sekarang.

Bicara tentang rasa, akupun sedang berbincang dengannya. Hanya kali ini perbincangan ini terasa begitu nyata. Aku seringkali tak berbincanng dengan pikiranku. Aku serasa sering berbincang dengan sesosok. Sesosok adalah bentukan yang mempunyai eksistensi sendiri. Dengan begitu, ia mempunyai pikiran dan perasaan sendiri. Oleh karena itu, seringkali aku terbentur oleh eksistensinya sebagai sosok. Tapi, bukankah itu yang seharusnya terjadi? Belajar menghargai keberadaan sosok lain dan tidak mengganggu eksistensinya agar eksistensi kita tetap berada di tempatnya. Terlalu mudah untuk dijadikan dalam pikiran saja. Namun, kita tetap hidup di tempat yang terlalu banyak menuntut.

Apa Tuhan selalu menuntut matahari untuk terbit pada pagi hari dan menenggelamkan dirinya ketika dijemput senja? Apa Tuhan selalu menuntut setiap kejadian yang terjadi? Kalau benar, terlalu banyak rumput yang bergoyang sambil menggerutu. Terlalu banyak kodok yang bernyanyi dengan nada sumbang yang disengaja. Terlalu banyak rintikan hujan yang jatuh berbarengan dengan derai air matanya. Terlalu banyak tubuh ini disentuh oleh kesedihan.

Tuntutan cenderung dekat dengan paksaan. Melumpuhkan keinginan dan mendekatkan dengan keharusan. Memaksa semuanya bergerak dengan sebagaimana mestinya. Menidurkan kebebasan yang ada. Apa yang dilakukakan terasa sudah seharusnya atau bahkan entah untuk apa, hanya sekadar tuntutan. Tak ada alasan dari pikiran sebagai dasarnya. Dibiarkan melakukan sesuatu tanpa hasrat dari diri ini. Hasrat untuk diri ini dan dari diri ini, bukan dari luar.

Sudahlah, biarkan saja. Terlepas dari tuntutan atau tidak, toh bunga tetap berkembang seperti selayaknya. Bunga tetap menebarkan keharuman yang menyentuh dan memanjakan indera penciuman kita. Bunga tetap menjadikan warnanya sebagai pesona yang lekat dengan dirinya. Terlepas dari kesedihan yang dideranya, begitu banyak yang menikmatinya. Apa ia memang memancarkan kebahagiaannya? Indahnya.

Tak ada yang lebih indah dari indah itu sendiri. Begitu banyak keindahan yang ditawarkan tetapi ternyata keindahan itu tetap berasal dari sini. Berangkat dari sini untuk mengirimkan sinyal-sinyalnya pada segala sensor indera ini. Itu indah. Proses yang begitu cepat dan menghasilkan sesuatu yang tidak pernah cepat selesai. Seperti manusia saja. Semuanya ingin berproses cepat dengan hasil yang tak boleh cepat-cepat. Aku ingin minggat.

Diam. Duduk sini. Dengarkan lagi petikan gitarnya dari sini. Ia dapat meghasilkan nada-nada yang menyatu dan terdengar harmonis. Alunannya dapat membuai kita dan lupa arah kembali. Terus memanggil dan mengajak kita berkelana entah kemana. Yang pasti, ke tempat yang selalu menawarkan kenyamanan yang menggiurkan. Dengarkan lagi, petikan lincah dari dawainya itu. Membuat tersenyum tanpa suruhan. Semua terjadi begitu saja, seperti alam ini.

Jangan ragu untuk menggoyangkan tubuh ini. Biarlah ia bebas dan keluar dari kerangkanya. Biarlah ia menikmati kebebasannya. Jangan ganggu tubuh ini ketika sedang menemani ilalang di padang sana. Serbuk putihnya dibiarkan terbang dan bebas pergi meninggalkannya tanpa ada air mata yang harus keluar. Serbuk-serbuk itu terbang tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka dibawa angin entah ke mana. Menelusuri tempat-tempat yang belum pernah terjamah mungkin. Dan pasti mereka menikmati saja tanpa harus memikirkan arah pulang. Mereka tahu mereka tak akan pernah kembali lagi.

Kenapa manusia tak bisa seperti ilalang saja? Atau bahkan hanya seperti serbuknya? Begitu banyak yang minta untuk kembali dan tak membiarkan pergi. Bahkan, pohon pun lebih tegar berdiri. Tak takut ketika daunnya jatuh satu per satu perlahan-lahan. Ditinggal saja dengan ranting-ranting yang tampak kering tanpa ada daun yang menempel satu pun. Tapi pohon itu tetap terlihat tegar. Berdiri dengan kuat diterangi matahari yang teriknya tak menerima ampun. Bertahan dengan akarnya ketika hujan menyiram dengan sambaran petir yang menggelegar. Ia tetap berdiri di situ tanpa terlihat lalu. Karena ia tahu, begitu banyak orang yang duduk di taman itu ketika musim gugur. Begitu banyak anak-anak yang berlarian di atas tumpukan daun gugur. Begitu banyak burung menghampiri dan menemaninya sesaat. Dan lebih dari sedikit senja yang tak kelam-kelam.

Musim gugur yang berlalu pun akan membuat daun-daun itu hadir kembali. Bercanda dan bergoyang bersama lagi. Mencoba bertahan bersama ketika badai datang tanpa mengetuk.

Coba ingat malam itu. Hujan berlomba menerpa kita, sedangkan kita tak diberi waktu untuk berlindung. Kita terus berlari sambil menderaikan tawa. Mereka yang duduk-duduk di warung kopi pun ikut tertawa melihat kita. Tertawa untuk membuat orang lain tertawa. Dan tertawa untuk segera melangkah dari sakit. Begitu banyak jenis tawa ya? Kita masih berlari hingga lelah dan pada akhirnya pasrah berjalan di antara rintikan yang menderas. Di sela rintikan itu, aku bersenandung kecil. Melantunkan lagu yang pada nantinya akan selalu mengingatkan kita pada saat itu, saat ketika kita sedang berpayung hujan. Apa yang dirasa saat itu? Saya terlalu sibuk menikmati sampai lupa rasa itu. Jadi, rasa malah hadir ketika kita tak begitu menikmati sesuatu. Dan kamu bilang kamu selalu punya rasa ketika bersama aku. Apa kamu tidak menikmati saat-saat itu? Bagaimana, manusia?

Sudahlah, saat ini begitu banyak bualan yang serupa dengan kenyataan. Kita biarkan saja seperti itu. Mungkin bualan dan kenyataan juga punya eksistensi yang harus kita hargai. Biar pada saatnya nanti mereka bisa menghargai eksistensi kita juga.

070107
11:50

Komentar