sistem

Aku hidup di dunia—tempat yang merupakan satu kesatuan sistem yang begitu besar. Katanya, sistem terjadi akibat adanya kesamaan dalam tujuan. Apa tujuan dunia ini? Aku pun masih mengentah. Kemudian, setiap Negara, setiap bangsa, sampai setiap satu kelompok sosial mempunyai sistem yang kuat. Bahkan, setiap individu pun mempunyai sistem sendiri. Sistem berlangsung secara terus-menerus. Sistem mengikuti arus yang sudah terbentuk atau bahkan memberontak arus yang sudah ada dan membuat aliran-aliran kecil sebagai cabangnya. Sistem berjalan terus atau diam terus—begitu saja. Sebagian merasa muak dengan sistem yang menjalar dan sebagian merasa terjebak di dalamnya. Begitu banyak kesalahan sistem dan begitu banyak kebenaran dari tiapnya.

Dan, pada saatnya nanti kita berhadapan dengan diri sendiri. Kekuatan yang begitu besar menuntut kenikmatan dalam bentuknya sendiri. Kekuatan yang begitu kecil mempertahankan rasa yang selama ini terlatih. Apakah kenikmatan juga bisa dilatih?

Berpuluh kali sudah kutanyakan pada kumpulan awan. Namun, mereka bilang aku hanyalah pelamun lainnya. Buang sebagian waktu untuk bertanya atau hanya sekadar bicara pada sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi itu merupakan suatu kenikmatan bagiku, setidaknya pelepas kepenatan, belaku. Mereka tersenyum sinis. Kemudian, mereka bebas menertawakan jerih payahku selama ini yang sangat berusaha untuk bertingkah dan berperilaku dalam kawasan masuk akal.

Apakah satu kejadian dapat merobohkan semua teori yang ada? Apakah satu kejadian dapat meluluhlantahkan usaha yang begitu keras selama ini?

Ah, aku bosan dengan omong kosong kalian, manusia. Selalu saja bertingkah lain di depan dunia. Hidupmu hanya untuk orang lain. Tersenyum untuk orang lain, berbohong untuk orang lain, semua untuk orang lain. Kalian adalah yang maha tahu, jawaban dari segala pertanyaan sesama kalian. Kurang hebat apa? Semua hadir untuk pergi dan dicari. Semua datang untuk beri luka dan buang obatnya. Semua beri untuk imbas pada akhir nanti. Ada sesuatu saat ini dan ada untuk di kemudiannya. Dan, masih juga kau cipta kata ‘ikhlas’?

Sudahlah, hujan kali ini pun tetap saja akibat terik yang menyiksa sesiangan tadi. Aku terjebak pada sistem Siddharta, sebab akibat tanpa menyisakan kebetulan di dalamnya.

2:38 pm
1 Maret 2007

Komentar