sofa

Semua sudah selesai. Ketika aku berani menyebut namamu di depan mereka semua. Semua sudah selesai.

Menurutmu tapi tidak menurut mereka. Itu hanyalah salah satu permulaan yang lain.

Apa lagi yang harus kujanjikan?? Bahkan, masa depan pun sudah kulabuhkan padamu.

Tak usahlah. Aku hanya ingin kita menikmati saat ini. Hidup tenang dan asyik berbicara tentang esok yang sebenarnya sama-sama tidak kita percayai. Itu yang membuat hidup kita lebih ringan.

Masih saja mempermainkan waktu? Bukankah sudah kita janjikan semua akan selesai ketika ada kita?

Aku tidak jatuh hati padamu, maaf. Aku hanya jatuh cinta pada ‘kita’!

Kita yang kau katakan selalu memberi candu?

Kita yang selalu menyediakan sofa lembut dan nyaman di teras depan. Dan aku dapat duduk dengan tenang, menikmati deretan bunga dan riangnya kicauan burung sambil ditemani pisang goreng serta seruput teh panas. Sampai pada akhirnya malam tetap datang tanpa permisi dan aku tetap duduk di sana.

Maka tak perlu perjanjan lagi. Penjelasanmu cukup.

Cukup untuk apa?

Cukup untuk buat aku bertahan di sini.

Kita terlalu jatuh cinta. Jatuh cinta kepada kita.

Sadarkah kau kalau saat ini bukan kita yang lagi berbincang dan menyambut pagi? Itu adalah cinta. Bahkan, kita pun yang menjadi tokohnya tidak dibangunkan. Mereka sibuk cumbu sana, cumbu sini dan kita dibiarkan tertidur pulas.

Teriknya matahari tak juga membangunkan kita?

Entahlah. Sudah lama aku tak melihat matahari. Matahari terlalu sibuk mungkin.

Terang masih saja milik malam. Malam yang terlalu terang pun sanggup menjadi terik.

Namun matahari masih saja bersandar di sana.

Mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta. Atau mungkin dia sudah tidak menanti apa-apa lagi.

Dia masih menanti tapi cinta masih sibuk sendiri di sini. Mungkin lupa kalau ada yang menantinya.

Dan kita akan tetap terlelap di sini sampai cinta meninggalkan kita.

Untuk apa dia pergi?

Untuk menjumpai matahari.

Kemudian kita akan terbangun kembali?

Iya dan matahari akan terlihat kembali.

Wah. Apa pada nantinya matahari akan tertidur dan lupa dibangunkan seperti kita saat ini?

Dan kita tak akan terlihat?

Ah, cinta. Masih saja memainkan yang didekati atau dijauhi. Kalau dekat, kita akan tertidur pulas dan susah untuk bangun. Kalau jauh, kita tidak akan terlihat.

Maka banyak pencinta malam yang gemar mencari sinar bulan.

Karena siang tak pernah tampak.

Atau mereka hanya ingin marak.

111006

Komentar

  1. huahahaha, gue baru baca lagi, nih, tik, jadinya...
    lagi kerasukan apa ya gue waktu itu? hahaha...
    beberapa baris ada yg dijadiin naskah teater lho, hoho

    BalasHapus

Posting Komentar