Postingan

sepakat

Malam menjelang pagi tadi aku dan dia sepakat bahwa waktu seperti berkejaran. Aku dan dia sudah enggan harus menanti waktu dan menanti lagi. Aku dan dia duduk berjarak, masih cukup dekat, sepuluh sentimeter mungkin. Eh, lima sentimeter mungikn lebih benar. Duduk tanpa berpandangan di bangku tanpa senderan. Kemudian, sambil menghisap rokoknya itu, ia bertanya, seperti asal. “Apa kita menikah saja?” Aku buru-buru menutupi keterkejutanku. Pandangan aku dan dia tetap ke depan, tak saling tatap. “Untuk apa?” jawabku sekenanya juga. “Biar menang dari waktu. Biar ada kepastian bisa sama kamu terus. Memang, sih, kita tidak mengejar kepastian. Aku cuma mau merasa menang saja dari waktu,” tanganmu terlihat dari ujung mataku sambil membuang abu rokok. “Mau diisi apa?” tanyaku spontan. “Diisi kayak gini aja terus. Yang beda cuma nikah ama nggak nikah,” jawabnya. Setelah itu, tak ada kata apa pun lagi. Yang terdengar hanya berisiknya kota dari ketinggian, suara korek, hembusan asap rokok, dan desah...

asap di benang tipis

Kepulan asap mengepul dan melambung tinggi di udara. Padahal, awan sedang memantulkan warna birunya yang paling cerah siang hari itu. Burung-burung tidak ada yang lewat di atasnya. Kosong saja hamparan di atas sana. Kepulan asap itu terlihat begitu jelas dari bawah. Kita menatapnya saja dari bawah. Duduk di bangku lapuk depan took yang sudah tutup bertahun-tahun. Entah kenapa. Lama-lama, pegal juga kepalaku mendongak begitu. Akhirnya, kutidurkan kepalaku di atas pahamu itu. Sudah biasa kita tak peduli dengan omongan orang yang lewat dan melihat tingkah laku kita itu. Aku pun tak bermaksud untuk bermanja-manja siang itu. Aku hanya ingin merehatkan otot-otot leherku ini. Diam kita terpaku memperhatikan kepalan asap itu sedari tadi. Setelah aku tiduran di pahamu, baru kita mulai perbincangan itu. Seperti biasa, perbincangan kita selalu berakhir dengan pertentangan makna yang kita ungkapkan. Padahal, tak jarang pada akhirnya ternyata maksud kita adalah sama, hanya penyampaiannya yang berbe...

kisah lanjutan

Malam tadi kisah kita dimainkan. Banyak orang menikmatinya dan sibuk meraba rasa. Aku senyum saja. Kita pun bahkan sebagai pemeran utama, kala itu tak pernah meraba apapun. Mungkin, aku tidak hanya memberikan senyum untuk mereka yang menerka, aku justru tersenyum mengingat rasa kita waktu itu. Kita begitu dekat sekaligus terasing. Atau, kita begitu dekat dengan keterasingan? Tidak mengenal membuat kita duduk diam tanpa gusar. Pertanyaan yang diajukan jelas pertanyaan ingin tahu, bukan pengulangan atas keseharian. Semua begitu baru dan segar. Terasa jelas maklum sebagai hasil dari semilir perkenalan mendalam. Tapi, kepastian bukan tujuan utama kita. Itu adalah permainan yang mengakrabkan saja. Nyatalah bahwa kepentingan kita begitu dekat. Cukup bertahan untuk malam itu. Sama sekali tidak berani menaruh harapan kepada esok. Setiap malam akan berakhir pada malam itu juga. Tak ada perpanjangan waktu. Sedikit atau banyak kata, lama atau sebentar waktu, semuanya harus sudah selesai. Waktu ya...

dekapdalam

Malam ini, ya, malam ini saja. Aku hanya berharap tersedia waktu bagiku tanpa diminta, tanpa keharusan, tanpa segala penangkal aura penenang. Terlalu lelah kantung mata ini menahan beratnya tetesan air mata. Raga ini pun ingin kubiarkan melayang tanpa ada yang empunya. Biarkan saja raga ini terkulai lemas di atas rumput. Otak ini pun sudah keterlaluan. Biarkan aku melakukan apa saja yang kuinginkan malam ini. Malam ini saja. Aku ingin mati untuk bisa bernapas kembali. Boleh minta diam? Kemudian, aku akan bersender sesebentar mungkin. Membagi segala peluh dan berat yang hampir tak ada artinya bagi sesiapa. Jerih rindu ini sudah menjadi piluh. Rasanya, ini sudah bukan pada taraf mau lagi. Aku butuh. Ya, dengan lantang aku katakan aku butuh. Didekap dalam diam untuk menghentikan segala perputaran hidup yang begitu tiba-tiba dan cepat. Dekap yang dalam. Diam yang pekat. Berikan napas lagi untukku. Semua belum bisa berhenti di sini. Tidak bisa.

lusuh

Kemudian, di sinilah perempuan itu meringkuk dalam bisu. Segala yang dirasainya begitu lugu. Seperti batu yang terlalu rindu pada tetesan air yang lama-lama akan membuatnya terkikis. Namun, justru itu adalah hal yang paling ditakutinya sekaligus diderita bahagia.

kelam

Ada yang salah. Ya, aku yakin ini ada yang kurang benar, walaupun seolah-olah semua begitu tepat. Rasanya, biar kuhukum diri ini sendiri. Menampar wajah sendiri untuk sadar tentang segala yang ada dan berlalu. Apa semua terlalu sibuk dengan tiap hidupnya? Hingga terlalu lupa, bahkan enggan, untuk menoleh. Atau, tidak menutup kemungkinan, aku saja yang atas dasar dan keinginanku kurang mengawasi sebelah dan seberang. Kembali saja ke kelam. Nikmat kesendirian yang memudar biar didera lagi. Tak perlulah untuk menuntut kebahagiaan dengan tolak ukur diri ini. Mereka hanya menilai dari kacamata mereka sendiri yang bila dilepas akan samar penglihatannya. Pada saatnya nanti, tak lama lagi, akan kuhabiskan kata dan diam dengan orang yang lama tak hadir. Mengharapkan segala penilaian lebih netral dan berlaku seadanya saja. Ah, ini apa di mana? Kapan ke mana? Dalam temaramnya, kucari tiap cerah melalui gelap. Sekian.

bangku lelah

Jangan tergesa-gesa. Tak ada satuan waktu tang menunggu dan mengejar. Lakukan sygala pahammu, walaupun dengan segala keraguan dan ketakutan yang menghantui optimismemu. Kau pun akan menjadi seorang manusia yang diakui. Bawa pulag segala suntuk dan lelah yang diakibatkannya. Jangan didera, mari diajak duduk dan dicerai-berai menjadi satuan yang paling lusuh. Segala itu pun pasti tersingkir. Kalah perang dengan segala paham aku dan kamu. Jika masih tersisa, berikan padaku. Biar kudekap erat dan kupangku dengan manja. Kemudian, aku dan kamu bersender dalam rangkulan bangku tua di beranda. Menjelma paham yang bisa memaklumi dengan sadar hingga tertidur pulas. Paginya, badan aku dan kamu akan sakit benar gegara ulah bangku itu. Namun, segala jiwa dan hati siap bertengkar dengan dunia untuk kemudian pulang dan mengulang kisah yang sama.

tak suka baca

Aku tak lagi suka membaca. Dulu, bisa saja kuhabiskan berjam-jam dengan membaca ribuan morfem dalam satu buku tanpa gangguan konsentrasi. Lama-lama, angkuhku mungkin muncul. Baru saja kubaca beberapa halaman, aku malah ingin menyaingi penulis yang pasti jauh lebih bagus dan berpengalaman. Kurangkai segala morfem yang muncul dalam pikiranku. Bahkan, tanpa ide awal. Tak kubuat kerangka pikiran yang menjadi patokan penulis-penulis. Bagus atau tidak hasil tulisan itu nanti saja, aku hanya ingin menumpahkan pikiran yang ada. Malam ini, aku tiba-tiba teringat seorang teman lamaku. Aku tahu betul kebiasaannya. Bangun tengah malam, membakar sebatang atau beberapa batang rokok dan menonton film. Filmnya pun selalu ia beli yang bajakan, kecuali film-film local. Menurutnya, hasil kreativitas, pemikiran, dan usaha orang lokal harus didukung. Pembelian film atau bahkan musik lokal adalah pencerobohan katanya dengan tegas. Bagusnya, ia termasuk konsisten dengan ucapannya mengenai ini. Selain menonto...

meranggas

jiwa ini meranggas ketika musim itu tiba musim yang mendampingi kelahiranku tak mengenal kemarau dan hujan musim pemodal besar idealisme berserakan di mana-mana ditinggalkan empunya yang merasa kalah merasa sia-sia dan ada di album kehidupan pun cukup identitas ibu pertiwi dipertanyakan kembali jiwa ini pun tak utuh jika masih ada pertanyaan itu pssst, satu lagi daun jiwaku lepas dan, identitas itu ikut terlekat menemani dalam album tadi

satu, dua, tiga

Semua begitu berbeda. Seolah-olah berjalan menjauhiku. Aku pun memilih untuk diam. Sekadar ingin melihat tanggapan dari yang lain. Ingin dianggap, sesungguhnya. Tetapi, mereka malah berjalan berhamburan. Atau, aku saja yang malah bersembunyi? Satu, dua, tiga. Mungkin, memang tempatku di taman belakang dengan secangkir kopi. Sayang sekali, alam bilang, dua perlu disesuaikan, sementara lebih daru dua terlalu banyak. Aku bilang, satu pun harus berpuas diri. (rindu kalian yang tak pernah mencari)