Postingan

Surat Samudra #3

Kepada Samudra, Kamu ada tanpa hadir.   Apakah hadirmu utuh? Maaf, saya lancang bertanya. Saya tahu bahwa banyak hal tidak perlu dipertanyakan lagi. Bukankah pertanyaan akan menggiring kita pada suatu pernyataan semu dan perasaan nyata? Saya teringat pembicaraan saya dan kamu di beranda sore itu yang diiringi sunyi. Katamu, seserpih pun masih merupakan keutuhan. Utuh atas bagian yang kecil itu. Lagipula, katamu lagi, apa yang utuh di dunia ini? Semua luka per nah tertinggal dan berbekas. Mungkin saja, seserpih akan menjadi utuh dengan serpihan lainnya. Ah, sering kali manusia begitu tergila-gila dengan keutuhan.  Samudra, saya tahu kamu ada. Apakah ada serta-merta hadir? Apakah hadir serta-merta ada? Apakah kamu akan menjadi tujuan saya? Apakah saya justru bertemu dengan kamu di ujung padang rumput tak berbatas? Apakah kita hanya saling berpapasan untuk terus ada tanpa pertemuan lagi? Apakah malam-malam ini kamu hadir? Samudra, hari ini saya mempunyai banyak pertanya...

mari berbual

Bukankah kita tinggal dalam keresahan? Antara kabut dan asap saja tak bisa lagi dibedakan Menolak lupa tetapi sering lupa Antisakit kerap saling menyakiti Kalau begitu, mari berbual saja Nyatakan terang ketika cahaya hanya setitik Katakan berhati saat rasa sudah hambar Bual memang lebih berterima bagi hati Selalu mengajak melangkah dalam pelesapan hidup Iya, hidup sering kali menciptakan lubang Ketika berada di atasnya, kita melesap Masuk tertimbun dalam kecelakaan hidup Berharap uluran tangan dapat membebaskan kita Keraguan ini milik siapa? Milik keyakinan, bisik empunya tangan

Jalan Harapan

Bagi saya—mungkin saya hanya satu-satunya, jalanan itu merupakan jalan harapan. Setiap kali melintasi jalanan itu, harapan saya membuncah tak karuan. Setiap masuk di ujung jalan, saya selalu menepiskan harapan. Sudahlah, harapan hanyalah harapan, tak akan berkelebihan jika terlaksana sekali pun. Selalu demikian ucapan saya. Selalu juga, sepanjang jalan, harapan seolah menepis untuk disingkirkan. Hadir begitu saja, tanpa persetujuan. Sepanjang jalan, hati saya selalu risau. Tatapan saya tebar. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatian saya sepanjang jalan itu. Di jalan itulah, saya acap berpapasan dengan dia. Dalam diam. Tanpa mata yang berbalas tatap. Tidak pernah lebih lama dari lima detik. Begitu sekejap. Rasanya tak lenyap hingga hinggap pada bulan. Tak selalu, hanya terjadi dalam hitungan ruas jari dari sekian banyak kesempatan. Hanya terjadi di jalan itu. Ketika terjadi, tak ada sesuatu yang berlebihan pun. Semua terasa begitu cukup. Singkat cukup. Diam cukup. ...

Sekapas Khawatir

Sebelum ia berangkat, diam-diam kuselipkan khawatir dalam kantung celananya Bentuknya seperti kapas, kalau kena hujan, akan menjadi berat Kalau tidak, pasti tak terasa ditemani sepanjang jalan Sepulangnya, ia serahkan khawatirku yang sudah semakin berat Basah kuyup sepanjang jalan, katanya Jangan lagi kau titip macam ini diam-diam, pesannya kepadaku Aku pergi untuk melepaskan kekhawatiranku sendiri, tapi kau titipkan yang serupa Begitu katanya sambil menyeruput air jahe buatanku Aku masuk kembali ke dalam, meniduri khawatirku

Hai yang Sederhana

Akhirnya, ajakan itu datang juga. Saya akan diperkenalkan kepada dunia dari kacamatanya. Bagi banyak orang, ini adalah jawaban atas penantian terpanjang. Pengakuan atas perasaan yang seharusnya hanya milik kami saja. Banyak orang bangga dengan momen ini padahal terasa seperti dipamerkan oleh seolah-olah si empunya. Bagi saya, ini adalah awal dari penderitaan. Saya dan dia harus melebur dalam mereka. Saya seakan tidak punya pilihan lain. Saya seharusnya sudah tahu ini sejak awal. Namun, tahu tidak serta-merta membawa siap. Alhasil, saya persiapkan hari itu sejak pagi. Mengira pakaian yang pantas untuk dipamerkan. Saya begitu mencoba memanjakan keinginan mereka yang sedang haus menilai. Saya seakan siap untuk menjadi boneka. Sore pun tak menunggu lama untuk hadir. Ia membawa segenggam kekhawatiran. Keresahan saya menggila. Saya hampir menghindar seperti kebiasaan saya. Tak boleh lari kali ini, pikir saya. Saya hanya butuh paham sore ini untuk tenang. Tak ada orang yang ...

Perempuan dan Patah Hati

Saya sedang merasa sedih.  Belakangan, saya melihat orang di sekitar saya patah hati. Berkeping-keping. Saya memang baru saja merasa patah hati, bahkan mungkin saya masih mengalaminya. Saya juga sadar bahwa respons orang terhadap perasaannya sendiri berbeda-beda. Segala cara dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari sakit yang sudah pasti. Iya, saya paham. Namun, kali ini saya sedih. Orang itu sering kali menyalahkan dirinya sendiri. Memang, kita tidak harus menyalahkan orang lain atas segala yang terjadi. Meskipun demikian, menurut saya, tidak pantas juga menyalahkan diri sendiri atas semua kejadian, apalagi penilaiannya dilakukan berdasarkan kacamata sosial semata. Maksud saya begini, saya sangat tidak setuju bahwa patah hati sama juga pembuktian bahwa ada (dalam hal ini) perempuan lain yang lebih cantik, lebih muda, lebih pintar, dan lebih-lebih lainnya yang lebih dipilih oleh laki-laki idamannya. Hallloooo! Bukankah itu hanya kacamata sosial yang sel...

Surat Samudra #2

Kepada Samudra, Kamu ada tanpa hadir. Apa yang membuatmu tak pernah menceritakan tentang perasaan yang tertimbun hingga kelak pada saatnya semuanya begitu nyata dan menyesakkan? Aku mendengar dongeng kemarin malam. Kisahnya sedih. Sebelumnya, sudah pernah kudengar kisah serupa, tapi kusanggup mendengarnya dalam senyap. Kukira ini hanyalah bualan yang membuatku bertahan di tengah perairan, hiburan konyol untuk disenandungkan dalam kejenuhan. Namun, malam lalu, semua begitu berbeda. Kehendakku menghilang. Limbung tak kunjung mereda. Samudra, di mana dirimu semalam? Jumpa denganmu mungkin akan lebih tenteram. Kamu akan bilang secara berulang bahwa ini hanya dongeng. Kisah ciptaan untuk penjagaan. Mungkin, ketidakhadiranmu merupakan bentukmu untuk menjaga aku. Membelajarkanku untuk melalui yang tak selalu mudah. Malam ini, aku jadi tahu betul. Mimpi butuh jawaban berupa konsekuensi. Mimpi membawa pembelajaran. Dan, aku tahu betul bahwa aku tak bisa berhenti bermimpi. Samudra,...

Surat Samudra #1

Kepada Samudra, Kamu ada tanpa hadir. Aku sudah berada di antara perairan, dikelilingi lautan. Entah menujumu atau justru menjauhkanmu. Aku hanya tahu, tepian masih begitu dekat--meskipun tak terlihat, semudah aku berputar arah untuk berlabuh. Mungkin, aku sudah bertemu denganmu. Mungkin juga, kamu masih menungguku di tengah sana. Mungkin juga, kita akan bertemu di tengah antah-berantah; ketika tepi sudah tak menjadi harapan. Saat itu, pasti niatku sudah semakin bulat bahwa aku hanya mau berlayar bersamamu, Samudra. Tanpa berlabuh lagi. Samudra, aku ingat pembicaraan kita malam itu melalui bintang. Katamu, pada saatnya nanti, aku akan pulang dalam keadaan tersesat. Saat sudah bertemu denganmu, aku akan merasa pulang. Namun, pada saat yang sama, aku juga merasa tersesat karena tidak tahu berada di mana. Jalan menuju rumahku dulu tak akan terlihat lagi. Pertemuan denganmu sama juga dengan menyesatkan diri. Apakah kamu menunggu waktu yang tepat? Apakah tepat itu, Samudra? Kita tah...

mimpi semalam

Aku tahu betul Rasanya sama dengan pertama Meskipun ini bukan Kutelusuri satu per satu Merunutkan adegan tanpa pernah urut Logika memang berpencar dalam mimpi Mimpi memang mampu mengubah Buktinya, hari ini menjadi begitu cerah Terbayang tiap senyum, tawa, dan hangat Aku juga menjadi berani Berani merasakan Biarlah Silakan rasa saja

Bukankah Kita adalah Senja?

Sekian lama sudah, kita menjadi orang asing di tengah keakraban. Tak pernah sungkan untuk kembali setelah lama tak berkabar. Begitulah kita; seenaknya pergi dan kembali.  Kita terlalu sadar bahwa di antara pergi dan kembali, sebenarnya, kita sama-sama menetap. Seperti yang kita pernah sepakati, kita adalah senja. Tak perlu ragu, selalu kembali. Kebiasaan ini memang terlalu menyakitkan bagi orang yang menyimpan perasaan. Mendamba keberlanjutan, padahal entah untuk apa. Lagi-lagi, kebiasaan ini mungkin lebih menyenangkan sebenarnya. Namun, keberlanjutan sering kali dimitoskan pembawa kebahagiaan. Suatu senja nanti, kita akan bertemu kembali. Bercerita apa saja yang kita mau. Kemudian, menertawai kepedihan yang melukai hidup kita. Tanpa keinginan saling mengobati, kita akan menghabiskan minuman di depan kita. Salah satu dari kita akan bercerita. Kali ini, ceritanya berbeda. Salah satu dari kita akan merayakan perasaannya. Bercerita tentang pembiarannya tentang hara...